"Jika cita-cita adalah sebuah tujuan dan masa depan, maka masa lalu dan sejarah adalah satu-satunya cara untuk mendapatkanya" -Arung Samudra-

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke-8 — 15 M

Mengenal ciri khas bangunan candi di wilayah Jawa

Proses Terbentuknya Kesadaran Nasional

Tahap terbentuknya Nasionalisme di dalam bangsa Indonesia

Penegakan Hukum Kerajaan Majapahit

Sistem peradilan dan penegakan hukum era Kerajaan Majapahit

Awal Mula Kedatangan Jepang ke Indonesia

Sejarah perjalanan dan kependudukan penjajahan bangsa Jepang di Indonesia

Ketika Pasukan Letkol Untung Kalah karena Nasi Bungkus

“Kalau memang dia berniat untuk itu, tentunya dia mempersiapkan makanan, logistik. Tapi ini tidak. Misi Untung hanya menculik tujuh jenderal,” ujar Petrik

Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Sejarah Bandung


Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan.
Beberapa tahun kemudian, lagu “Halo Halo Bandung” ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang sekarang telah menjadi lautan api.
Setelah ProklamasiKemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang.
Mereka berkomplot dengan Belanda dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. Jejak Perjuangan “Bandung Lautan Api” membawa kita menelusuri kembali berbagai kejadian di Bandung yang berpuncak pada suatu malam mencekam, saat penduduk melarikan diri, mengungsi, di tengah kobaran api dan tembakan musuh.
Sebuah kisah tentang harapan, keberanian dan kasih sayang. Sebuah cerita dari para pejuang kita. Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia.
Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang
pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.
Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk me¬nyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda.
Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan. Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik “bumihangus”.
Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi kearah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung.
Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala. Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang
tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu “Halo-Halo Bandung” yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia. Selengkapnya mengenai Peristiwa Bandung Lautan Api, anda bisa membaca buku; “Saya Pilih Mengungsi”, buku ini dapat anda dapatkan di sekretariat Bandung Heritage.
——————————————————————–
–SEJARAH BANDUNG LAUTAN API—
SUATU hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu “Halo-Halo Bandung” ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api.
Insiden Perobekan Bendera
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia.
Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.
Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.
Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.
Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.
Bandoeng Laoetan Api
Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik “bumihangus”. Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.
Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota.
Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api.
Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu “Halo-Halo Bandung” yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.
Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris.
“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air” (A.H Nasution, 1 Mei 1997)
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.5
Sumber: Bandung Society For Herritage Conservation

Jumat, 09 Mei 2014

PROSES TERBENTUKNYA KESADARAN NASIONAL DAN PERGERAKAN KEBANGSAAN INDONESIA

A.    Pengaruh  Pendidikan Barat Dan  Pendidikan  Islam Terhadap  Munculnya  Nasionalisme  Indonesia
1.      Pengaruh politik etis terhadap lahirnya golongan terpelajar,
Di bab depan telah kita bahas, bahwa salah satu kebijakan pemerintah kolonial yang pernah dilakukan di negri kita adalah pelaksanaan politik etis atau politik balas budi yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer dengan triloginya, yaitu :
a.       irigasi
b.      imigrasi
c.       edukasi
Walaupun politik etis tidak sepenuh hati dilaksanakan oleh pemerintah kolonial untuk kepentingan bangsa Indonesia, karena disesuaikan dengan kepentingan pemerintah penjajah namun pelaksanaan politik etis di Indonesia membawa beberapa dampak penting, utamanya yang akan kita bahas adalah bidang edukasi atau pendidikan..
Dalam pelaksanaan politik  etis bidang pendidikan dilaksanakan bukan untuk kepentingan mencedrdaskan kehidupan bangsa Indonesia, melainkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga tenaga terdidik untuk dipekerjakan dibidang administrasi murahan.. Dengan program edukasinya akhirnya pemerintah  kolonial belanda banyak, mendirikan sekolah sekolah antara lain :
1.      Volks School (SR 3 tahun)
2.      Vervolg School ( SR sambungan 3 + 2 tahun )
3.      H I S ( Hollands Inlandsche School, 0 – 6 tahun )
4.      M U L O ( sekolah menengah  )
5.      A M S ( sekolah  menengah  atas )
6.      O S V I A  (sekolah Pamong Praja)
7.      S T O V I A  ( sekolah kedokteran )
8.      R H S ( sekolah hokum)
9.      T H S ( sekolah tehnik)
Dengan  banyak berdirinya sekolah sekolah untuk golongan pribumi, maka secara perlahan tapi pasti mulailah muncul bibit bibit kaum terpelajar di Indonesia yang makin lama makin banyak jumlahnya, hal ini merupakan salah satu dampak positif pelaksanaan politik etis. Karena dengan munculnya golongan terpelajar inilah yang nanti mejadi motor penggerak  lahir dan tumbuhnya kesadaran nasiomal di Indonesia.
2.      Peranan Pendidikan Islam Terhadap Munculnya Nasionalisme Indonesia
Selain peran pendidikan barat, lahirnya kesadaran nasional juga tidak lepas dari peran pendidikan Islam, sebagaimana kita tahu bahwa salah satu saluran islamisasi yang dilakukan di Indonesia adalah melalui kegiatan pendidikan di pondok pondok pesantren. Pendidikan ini memiliki tradisi yang panjang dan lahir sebelum keberadaan pemerintah kolonial Belanda menyelenggarakan penndidikan model barat.Santrri santri jebolan pondok pesantren banyak yang berhasil menjadi tokoh masyarakat dan memiliki pemikiran yang maju akan pentingnya pendidikan bagi generasi penerusnya.Apalagi diantara mereka banyak yang berhasil menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah yang menyebabkan mereka akhirnya bergaul dengan umat islam diseluruh dunia, Melalui pertemuan,pergaulan dan pertukaran pengetahuan alkhirnya mereka menyadari keberadaan bangsanya yang masih terbelenggu oleh penjajahan Belanda. Kesadaran inilah yang akhirnya mereka dengung dengungkan setiba ditanah air.

3.      Peranan Golongan Terpelajar Dalam Pergerakan Kebangsaan Indonesia
Tumbuhnya golongan terpelajar sebagai akibat dari perkembangan pendidikan baik yang bercorak barat maupun islam akhirnya membangkitkan suatu kekuatan baru dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dari pendidikan yang mereka dapat itulah  mereka akhirnya dapat menemukan kesalahan dalam perjuangan bangsanya dalam mengusir penjajah,  yaitu :
1.  tidak adanya ikatan persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah, karena mereka berjuang untuk kepentingan daerahnya sendiri-sendiri.
2.  perjuangan yang dilakukan terlalu bergantung pada seorang pemimpin, tidak ada regenerasi
3.      perjuangan yang dilakukan tidak terorganissir dengan baik
4.      perjuangan yang dilakukan tidak memiliki tujuan yang jelas
Belajar dari kesalahan masa lampau, akhirnya timbullah kesadaran untuk membentuk orgasisasi perjuangan yang teratur agar tujuan  perjuangan dapat segera terwujud.
Tumbuh dan berkembangnya kesadaran nasional Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1.      Faktor dari dalam negeri :
    1. lahirnya golongan terpelajar/cerdik pandai
    2. timbulnya perasaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan
    3. timbulnya kesadaran pentingnya persatuan dan kesatuan
    4. timbulnya dorongan untuk mengembalikan kejayaan bangsa dimasa lalu, seperti dulu masa sriwijaya dan Majapahit
2.      Faktor dari Luar negeri :
    1. kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, yang membangkitkan semangat bangsa Asia melawan bangsa Eropa
    2. Masuknya paham paham baru. misalnya paham demokrasi dan liberalisme
    3. Munculnya pergerakan nasional diberbagai negara di kawasan Asia.
Semua faktor yang tersebut diatas telah mendorong kaum terpelajar untuk berjuang mengusir penjajah. Mereka akhirnya menyadari bahwa perjuangan untuk memajukan dan memerdekakan bangsa Indonesia harus dilakukan dengan mempergunakan organisasi yang bersifat modern, baik pendidikan,perjuangan politik, perjuangan ekonomi maupun sosial budaya.
B.     Perkembangan Pergerakan Nasional di Indonesia
1.      Organisasi organisasi yang berdiri pada masa pergerakan Nasional
Organisasi yang berdiri pada masa pergerakan nasional dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.       Organisasi yang berdiri pada masa awal pergerakan nasional
b.      Organisasi yang berdiri pada masa Radikal  (non cooperation)
c.       Organisasi yang berdiri pada masa moderat (cooperation)
Organisasi yang berdiri pada masa awal pergerakan nasional adalah :
Ø  BUDI   UTOMO ( B  U  )
Organisasi ini berdiri pada tanggal 20 Mei1908, didirikan oleh beberapa mahasiswa STOVIA di Jakarta, antara lain Dr. Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Budi Utomo didirikan dengan tujuan :
“Mencapai kemjuan dan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan” Karena merupakan organisasi modern yang pertama kali lahir, maka  Budi Utomo dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional, oleh karena itu berdirinya budi Utomo tanggal 20 Mei oleh bangsa Indonesia dipeeringati sebagai “Hari Kebangkitan Nasional”.


Ø  SAREKAT  ISLAM (  S I  )
Pada awal berdirinya, organisasi ini bernama “Sarekat Dagang Islam”, didirikan oleh Haji Samanhudi pada tahun 1911 dengan tujuan :
1.      memajukan perdagangan Indonesia dibawah panji panji Islam
2.      mengadakan persaingan dengan pedagang pedagang China
Karena sifatnya yang merakyat dan pertumbuhannya yang amat pesat, maka atas usul HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 Sarekat Dagang Islam namanya diubah menjadi “Sarekat Islam”. Organisasi Sarekat Islam memiliki tujuan :
1.      mengembangkan jiwa dagang
2.      membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam berusaha
3.      memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat
4.      memperbaiki pendapat pendapat yang keliru mengenai agama islam
5.      hidup menurut perintah agama islam
Sarekat Islam dalam waktu relative singkat berhasil menjadi organisasi masa terbesar di Indonesia saat itu dengan jumlah anggota 800.000 orang yang tersebar dalam 90 Sarekai Islam lokal diseluruh Indonesia.
Kehadiran Sarekat Islam ditengah tengah alam penjajahan menimbulkan kekawatiran yang besar bagi Belanda, untuk menghambat Sarekat Islam Belanda senantiasa memantai gerak langkah Sarekat Islam.
Tokoh tokoh Sarekat Islam yang terkenal adalah HOS Cokroaminoto dan Abdul Muis.Dalam perkembangannya, akibat taktik infiltrasi yang dilakukan oleh Parat Komunis Indonesia (PKI), pada tahun 1917 Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu :
1.      Sarekat Islam Putih (SI Putih), yaitu Sarekat Islam yang tetap nerlandaskan pada asas perjuangan semula, dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, Abdul Muis dan H. Agus Salim.
2.      Sarekat Islam Merah (SI Merah), yaitu Sarekat Islam yang telah terpengaruh oleh paham komunis, dipimpin oleh Semaun, Darsono dan Alimin
Ø  INDISCHE PARJIJ  (  I P  )
                  Indische Parjij berdiri pada tanggal 25 Desember 1912, oleh tokoh “Tiga Serangkai”, yaitu :
1.      Suwardi Suryaningrat (Kihajar Dewantara)                    
2.      Douwes Dekker (dr.Danudirja Setiabudi)
3.      dr.Tjipto Mangunkusumo
Tujuan dari Indische Partij adalah :
1.      menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan semua golongan
2.      memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional
3.      mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka
Indische Partij dianggap sebagai “organiasi politik” yang pertama kali berdiri karena organisasi inilah yang pertama kali dengan tegas menyatakan cita citanya mencapai Indonesia merdeka.
Pada tanggal 11 Maret 1913 Indische Partij dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Belanda, karena dianggap membahayakan kepentingan penjajah dan juga karena Belanda merasa malu dengan sindiran Suwardi Suryaningrat yang tertuang dalam tulisan “ALS IKEENS NEDERLANDER WAS” yang berarti “ANDAIKAN AKU SEORANG BELANDA’. Ketiga tokoh tiga serangkai dijatuhi hukuman buang ke negri Belanda dan sejak itu Indische Partij mundur.
Organisasi yang berdiri pada masa  radikal (non cooperation) adalah :
Ø  PERHIMPUNAN   INDONESIA (  P I  )
Organisasi Perhimpunan Indonesia didirikan oleh para pemuda Indonesia yang sedang belajar di negri Belanda pada tahun 1908, semula bernama INDISCHE VERENIGING, tujuannya semula adalah “membantu kepentingan para pemuda dan pelajar Indonesia yang ada di negri  Belanda.” Pada tahun 1922 nama Indische Vereniging diubah menjadi “INDONESISCHE VERENIGING”, yang diikuti pula dengan perubahan tujuan  organisasi  menjadi bersifat politik yaitu “menuntut kemerdekaan bagi Indonesia”.
Pada tahun 1924 nama Indonesische Vereniging kembali mengalami perubahan menjadi “PERHIMPUNAN INDONESIA’ dengan tujuan “berjuang untuk memperoleh suatu pemerintahan di Indonesia yang hanya bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia”.
Tokoh tokoh Perhimpunan Indonesia yang terkenal antara lain adalah :
1.      Drs. Moh Hatta                                                      
2.      Nazir Datuk Pamuncak
3.      Abdul Madjid Djoyoadiningrat
4.      Ali Sastroamijoyo
5.      Gunawan Mangunkusumo
6.      Iwa Kusuma Sumantri 

PENTING
                   Pada tahun 1925 PI mengeluarkan manifesto politik yang berisi tentang tuntutan Indonesia merdeka, wilayah   yang merdeka dan pemberlakuan hukum adat serta menentang hukum kolonial
Para pemimpin Perhimpunan Indonesia menyatakan bahwa organisasinya merupakan organisasi pergerakan nasional. Merekalah yang akan memainkan peran penting sebagai agen pengubah masyarakat dari masyarakat terjajah menjadi masyarakat yang merdeka, bebas dan pintar. Hal ini menunjukkan bahwa Perhimpunan Indonesia sebagai”MANIFESTO POLITIK”
                                                                                                    
Karena sepak terjangnya yangsangat keras menentang Belanda, maka keempat tokoh Perhimpunan Indonesia ditangkap dan dituntut dimuka pengadilan di Den Haag pada tahun 1928, namun karena tidak terbukti bersalah akhirnya mereka dibeaskan.Sejak saat itu segala kegiatan PerhimpunanIndonesia diawasi secara ketat.
Ø  PARTAI KOMUNIS  INDONESIA (  P K I  )
          Pada awalnya Partai Komunis Indonesia bernama “INDISCHE SOCIAL DEMOCRATISHE VERENIGING’ ( ISDV ) , berdiri pada tanggal 9 Mei 1914. Pada tanggal 23 Mei 1920 namanya diubah menjadi  PARTAI KOMUNIS  HINDIA, dan baru pada bulan Desember 1920 namanya diubah lagi menjadi  PARTAI  KOMUNIS  INDONESIA. Tokoh tokoh PKI antara lain adalah Semaun, Alimin dan Darsono.
Tujuan PKI adalah “melaksanakan garis politik yang ditetapkan komunisme internasional(komintern) dengan cara mengusir penjajah Belanda dan mendirikan Negara komunis Indonesia”
PKI  dalam perjuangannya menggunakan taktik infiltrasi, yaitu dengan cara menyusup kedalam organisasi lain, diantaranya adalah kedalam tubuh Sarekat Islam, hingga akhirnya Sarekat Islam pecah menjadi dua..
Ø  PARTAI  NASIONAL  INDONESIA (  P N I  )
Partai Nasional Indonesia berdiri pada tanggal 4 Juli 1927 dikota Bandung. Tokoh tokoh PNI yang terkenal adalah Ir. Sukarno. Maskun, Supriadinata,dan Gatot Mangkupraja.
Tujuan PNI adalah “Mencapai Indonesoa merdeka yang dilakukan atas usaha sendiri”. Hasil hasil Pergerakan Partai Nasional Indonesia antara lain adalah
1.      Makin kuatnya kesadaran Nasional
2.      Membentuk Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
3.      mendirikan kursus kursus, sekolah, bank. Koperasi dan rumah sakit
4.      bekerjasama dengan Perhimpunan Indonesia menggelorakan anti imperialis
5.      Ir. Sukarno memiliki pengaruh yang meluas dikalangan masyarakat.
Ir. Sukarno dalam sidang Pengadilan di Bandung denganPembelaannya “Indonesia Menggugat
Pada tahun 1929 pemimpin PNI ditangkap, karena semakin meningkatnya nasionalisme dan radikalisme dianggap sebagai persiapan untuk melakukan pembrontakan. Didepan sidang kolonial, Ir Sukarno mengemukakan pembelaannya yang terkenal dengan judul “INDONESIA MENGGUGAT’, namun walaupun pengadilan tidak dapat membuktikan kebenaran atas tuduhannya, Ir Sukarno dan tokoh-tokoh PNI lainnya tetap dijatuhi hukuman penjara. PNI bubar pada tahun 1931 karena para pemimpinnya tidak dapat melanjutkan perjuangannya.
Organisasi Yang  Berdiri Pada Masa Moderat (Cooperativ) adalah :
Ø  PARTAI   INDONESIA  RAYA (PARINDRA)
Parindra berdiri pada tanggal 26 Desember 1935 di kota Solo, Parindra merupakan fusi (gabungan) antara Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI).
Tokoh tokoh Parindra adalah dr. Sutomo, Moh. Husni Tamrin, R Panji Suroso, R. Sukarji Wiryopranoto, Mr Susanto. Taktik dan asas perjuangannya adalah kooperatif.
Tujuan Parindra adalah “ Mencapai Rindonesia Raya” dengan jalan :
1.      memperkokoh persatuan dan kesatuam bangsa
2.      menjalankan aksi polotok untuk mencapai pemerintahan yang demokratis
3.      memajukan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia.
Ø  GERAKAN RAKYAT INDONESIA (  GERINDO  )
Gerindo berdiri pada tanggal 24 Mei 1937 di Jakarta.
Tujuan Gerindo adalah :
1.      mencapai Indonesia merdeka
2.      memperkokoh ekonomi Indonesia
3.      mengangkat kesejahteraan kaum buruh
4.      memberi bantuan bagi para pengangguran
Keanggotaan Gerindo terbuka untuk umum, dan menerima seluruh lapisan masyarakat baik itu orang pribumi, china, arab maupun Eropa.
Tokoh tokoh Gerindo  yang terkenal adalah Drs. AK Ghani, Mr. Sartono, Mr.Muhammad Yamin, R Wilopo, Amir Syarifudin.
Ø  GABUNGAN POLITIK INDONESIA (GAPI )
Gabungan politik Indonesia (GAPI) adalah organisasi yang berdiri dengan latar belakang penolakan “Petisi Sutarjo” oleh pemerintah Belanda. Petisi Sutarjo adalah petisi yang berisi tuntutan kepada pemerintah Belanda agar Indonesia diberi pemerintahan sendiri, alas an pemerintah Belanda menolak petisi tersebut adalah  Indonesia belum tiba waktunya untuk  memiliki pemerintahan sendiri.
GAPI berdiri tanggal 21 Mei 1939 di Jakarta dan merupakan fusi dari Parindra, Gerindo,Pasundan,Persatuan Minahasa, Partai Sarekat Islam Indonesia dan PNI baru. Tokoh tokoh GAPI yang terkenal adalah Moh.Husni Tamrin,Amir Syarifudin dan Abikusno.
Hal hal yang diperjuangkan GAPI antara lain adalah :
1.      memperjuangkan pemakaian bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad
2.      penghapusan diskriminasi
3.      perubahan kata inlander menjadi orang Indonesia
2.      Sumpah Pemuda dan Pengaruhnya Terhadap Perjuangan Indonesia Merdeka
Ketika Budi Utomo terbentuk pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi ini dipandang sebagai organisasi yang mampu menjadi wadah aspirasi para pemuda. Namun setelah terselenggaranya Konggres Budi Utomo yang I, peranan para pemuda didalamnya justru melemah, hal ini karena dalam kepengurusan Budi Utomo banyak didominasi oleh para pegawai negri dan pensiunan.
Pada tahun 1915, berdirilah sebuah organisasi kepemudaan yang bernama TRI KORO DARMO,yang memiliki tujuan :
1.      menjalin persatuan diantara para siswa sekolah menengah dan kejuruan
2.      memperluas pengetahuan umum bagi para anggotanya
3.      membangkitkan rasa cinta terhadap bahasa dan budaya sendiri
Keanggotaan Tri  Koro Darmo adalah para pemuda yang berasal dari Jawa, Madura, Sunda, Bali dan Lombok. Nama Tri Koro Darmo akhirnya berubah menjadi “Jong Java”. Kelahiran Jong Java akhirnya disusul dengan kelahiran organisasi organisasi kepemudaan di daerah lainnya, antara lain  Jong Islamienten Bond, Jong Cilebes, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Batak dll.
Gambar  pengurus jong Islamienten Bond                                       
PENTING
Tri Koro Darmo berarti Tiga Tujuan Mulia, yaitu Sakti, Budi dan Bakti. Trokoro Darmo dipimpin oleh R. Satiman Wiryosanjoyo
      
Sejak tahun 1926 mulai terlihat adanya kecenderungan penyatuan organisasi organisasi pemuda yang telah ada, disamping itu mereka juga mulai memasuki kegiatan politik nasional, hal ini disebabkan karena semakin tebalnya jiwa kebangsaan bagi pemuda. Gejala ini ditandai dengan lahirnya beberapa organisasi pemuda yang bersifat nasional dan langsung memasuki gelanggang  politik, yaitu :
1.      Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), yang bertujuan “ menggalang persatuan dari  seluruh organisasi pemuda untuk berjuang bersama sama melawan penjajah Belanda”. PPPI berfikir bahwa tujuannya akan tercapai apabila sifat kedaerahan dihilangkan.
2.      Pemuda Indonesia (PI), yang bertujuan “ memperkuat dan memperluas ide kesatuan nasional Indonesia” PI berfikir bahwa tujuannya akan tercapai dengan jalan mendirikan organisasi organisasi kepanduan dan mengadakan kerjasama dengan organisasi yang lain.
PPPI dan PI adalah dua organisasi pemuda yang mempelopori diselenggarakannya KONGGRES PEMUDA I dan KONGGRES PEMUDA II.
KONGGRES PEMUDA I
Diselenggarakan pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926, di Jakarta, dan diketuai oleh Muhammad Tabrani dengan dihadiri beberapa tokoh pemuda, dengan dua keputusan penting, yaitu :
1.      semua perkumpulan pemuda bersatu dalam wadah organisasi “Pemuda Indonesia”
2.      mempersiapkan pelaksanaan Konggres Pemuda II
Seusai Konggres Pemuda I, para pemuda semakin menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya akan dicapai melelui.ersatuan. Pada tahun 1928 alam pikiran pemuda Indonesia sudah mulai dipenuhi oleh jiwa persatuan, rasa bangga dan rasa memiliki cita cita yang tinggi, yaitu Indonesia merdeka
KONGGRES   PEMUDA  II
Diselenggarakan pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928 di Jakarta, tepatnya di Jalan Kramat Raya no 106 di gedung “Indonesische Clubgebouw” dan diketuai oleh Sugondo Joyo Puspito dengan dihadiri oleh :
1.      Wakil wakil dari organisasi pemuda
2.      Wakil wakil dari partai Budi Utomo (BU), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Sarekat Islam (PSI)
3.      Pejabat pejabat kolonial Hindia Belanda
Tujuan diselenggarakannya Konggres Pemuda II adalah :
1.      hendak melahirkan cita cita semua perkumpulan  pemuda Indonesia
2.      membicarakan masalah masalah tentang pergerakan pemuda Indonesia
3.      memperkuat perasaan kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia
Keputusan penting Konggres Pemuda II adalah :
1.      di ikrarkannya Sumpah Pemuda
2.      semua organisasi pemuda dilebur menjadi satu dengan nama “Indonesia  Muda”
                                          
PENTING
Dalam konggres Pemuda II, sebelum dikrarkannya Sumpah Pemuda, telah diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman, yang nanti menjadi lagu kebangsaan Indonesia
                         
                                                                                           
3.      Peranan   Pers  Dan  Perana  Wanita Dalam  Pergerakan Nasional
1.      Peranan   Pers Dalam  Pergerakan  Nasional
Sebelum munculnya Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, hamper diseluruh kota besar di Indonesia telah memiliki surat kabar sendiri yang pada umumnya berbahasa melayu, misalnya :
1.      Pewarta Surabaya, Pemberitaan Betawi, Sinar Jawa dan Benteng Pagi di pulau Jawa
2.      Pemberitaan Aceh, Cahaya Sumatra, Sinar Sumatra di pulau Sumatra
3.      Pewarta Borneo di pulau Kalimantan
4.      Pewarta Menado di pulau Sulawesi
Perkembangan pers di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari penjajahan Belanda, tentunya pada saat itu belum ada kebebasan pers, setiap pembertitaan yang bersifat menentang pemerintah kolonial  Belanda penerbitannya langsung dilarang dan pemimpinnya ditangkap. Para pemimpin Indonesia yang juga sekaligus pemimpin surat kabar, dalam usaha memasyarakatkan cita cita kemerdekaan nasional terpaksa harus keluar masuk penjara karena dianggap telah melakukan kejahatan pers.
Walaupun mendapat pengawasan yang. super ketat dari pemerintah Belanda, namun pers nasional terus berkembang sejalan dengan berkobarnya semangat kebangkitan nasional sebagai penyebar cita cita kemerdekaan,Beberapa Pers yang terbit dibawah pimpinan para tokoh perintis  pejuang kemerdekaan antara lain :
1.      De Express, dibawah pimpinan dr. Ciptomangunkusumo
2.      Suara Umum, dibawah pimpinan Tohir Cindarbumi
3.      Benih Merdeka, dibawah pimpinan Moh.Yunus dan O K  Ozir
4.      Oetoesan Indonesia dibawah pimpinan HOS Ckroaminoto
Selain itu ada pula surat kabar yang khusus membawa buah pikiran Ir Sukarno dan Drs. Moh Hatta, yaitu :
1.      Pikiran Rakyat
2.      Serikat Indonersia Muda
3.      Daulat Rakyat
4.      Penyebar Semangat
Diantara majalah majalah atau pers yang terbit, yang memiliki pengaruh sangat besar dalam pergerakan Nasional adalah “Indonesia Merdeka” yang diterbitklan oleh Perhimpunan Indonesia di negri Belanda. Majalah ini ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu.
Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa peran pers dalam pergerakan nasional adalah “ sebagai penyeru agar rakyat Indonesia bangkit dan bersatu padu untuk menghadapi imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme Belanda.
2.      Peranan Wanita  Dalam   Pergerakan  Nasional

Selain gerakan sosial, kebudayaan dan politik, pergerakan nasional juga ditandai dengan bangkitnya wanita Indonesia untuk turut serta aktif menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gerakan Wanita Indonesia ini pada dasarnya tujuannya adalah untuk “mengangkat harkat dan derajat wanita Indonesia dari belenggu penjajahan dan adat istiadat yang kolot”. Tokoh tokoh pergerakan Nasional  dari kalangan wanita di Indonesia menghendaki adanya emansipasi. Tokoh yang dianggap sebagai perintis gerakan wanita di Indonesia adalah R A  Kartini  dan R 
                                     
 
Perkumpulan wanita yang  muncul pada masa pergerakan nasional adalah :
1.      Perkumpulan Kartini Found di Semarang
2.      Putri Mardika di Semarang
3.      Maju Kemuliaan di Bnadung
4.      Wanita Rukun Sentosa di Malang
5.      Budi Wanita di Solo
6.      Kerajinan Amal Setia di Kota Gadang
7.      Serikat Kaum Ibu Sumatra di Bukit Tinggi
Perkumpulan-perkumpulan wanita inilah yang nanti memprakarsai diselenggarakannya Konggres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 dengan keputusan “membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI)”.
Sejak terjadinya Konggres Wanita itulah, kesadaran wanita Indonesia untuk meningkatkan martabatnya menjadi semakin besar dan mereka juga terus ikut berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka. Sampai sekarang hari bersejarah terselenggaranya Konggres Wanita di Indonesia kita peringati sebagai  “Hari Ibu”.
http://widhisejarahblog.blogspot.com/2013/10/proses-terbentuknya-kesadaran-nasional_17.html

Tan Malaka, ditawan sebelum meninggal di tangan bangsa sendiri

http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2013/04/18/tan-malaka-ditawan-sebelum-meninggal-di-tangan-bangsa-sendiri/

Rasa penasaran itu masih saja berkecamuk. Rasa yang sama mungkin juga dimiliki sejarawan Belanda Harry A Poeze yang menyebutkan Tan Malaka dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949 oleh Brigade Sikatan atas perintah Letnan Dua Sukotjo.
Rasa penasaran itu berujung ketika harus melangkah menuju wilayah Selopanggung yang berada di kaki Gunung Wilis tempat di mana Tan Melaka harus meregang nyawa. Keputusasaan sempat berkecamuk ketika gagal mendapatkan informasi seperti apa yang disampaikan Harry A Poeze, yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) tentang Tan Malaka di Desa Selopanggung.
Namun berkat kesabaran akhirnya merdeka.com bertemu dengan Syamsuri (45) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998).

Atas jasa Syamsuri itulah, merdeka.com diajak bertemu dengan Tolu (87) warga Selopanggung yang berada di lembah Gunung Wilis yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Kediri. Tolu yang sudah agak berkurang pendengarannya itu, kaget ketika penulis datang bertanya tentang rumah kakeknya yang dijadikan tempat persembunyian Brigade S saat agresi Belanda kedua terjadi sekitar tahun 1948.
Dan lebih kaget lagi ketika disebutkan nama Tan Malaka. Tolu terdiam sejenak untuk mengambil napas, kemudian dia menghisap rokok klobot (rokok ricikan sendiri) dan dinikmati dengan pelan dan kemudian dari mulutnya keluar perintah kepada anak perempuannya. “Nduk gawekno wedang kopi, iki lho enek tamu,” katanya singkat. (Anak perempuanku tolong buatkan kopi untuk tamu).
Setelah kopi dihidangkan, kemudian ia bercerita. “Kala itu saya masih berumur sekitar 10 tahun. Saya tinggal bersama kakek saya, Mbah Yasir namanya. Rumah kakek saya itulah yang ditempati pasukan TRI yang melarikan diri dari kejaran Belanda,” katanya sambil menikmati rokoknya.
Ditambahkan Tolu, dari para anggota TRI tersebut dia masih ingat nama-nama pentolannya. “Mereka adalah priyayi yang berpakaian bagus, berpendidikan, membawa senjata, membawa buku dan juga mesin ketik. Mereka antara lain Letkol Surahmat, Letnan Dua Sukotjo, Soengkono, Sakur, Djojo dan Dayat. Merekalah para komandan yang membawahi kurang lebih 50 pasukan yang saat itu berjuang melawan Belanda,” imbuhnya.
Saat Tolu menyebut nama Soekotjo, Soerahmat,dan juga Soengkono saya pun teringat akan nama itu yakni sama persis dengan riset Harry A Poeze yang menyatakan Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade S atas perintah Letnan Dua Sukotjo . Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade-nya Letkol Soerahmat.
Hal ini juga diperkuat dalam buku Otobiografi Letkol Soerahmat (Komandan Brigade S, tinggal di Kediri) yang ditulis salah satu putranya Ir Suyudi memang menyebutkan bahwa Brigade Sikatan atau yang lebih dikenal dengan Brigade S adalah yang menembak mati Tan Malaka di Kediri pada 21 Februari 1949.
Penangkapan hingga penembakan mati Tan Malaka oleh Brigade S atas perintah Petinggi militer di Jawa Timur. Militer menilai seruan Tan Malaka membahayakan stabilitas. Seruan Tan Malaka itu terkait penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta pernyataan enggannya elite militer bergerilya.
Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje Nganjuk dan akhirnya dieksekusi di Selopanggung Kediri. Tentang Tan Malaka sendiri, Tolu saksi sejarah yang masih hidup mengaku antara ingat dan tidak. Untuk mengembalikan memori ingatannya merdeka.com mencoba mencoba membukakan gambar wajah Tan Malaka.
Dari situlah kemudian dia kembali teringat. “Orang ini adalah orang yang menjadi tawanan TRI, dia diamankan khusus. Waktu itu yang menjaga adalah di bawah pengawasan Pak Dayat langsung. Entah bagaimana ceritanya ketika itu setelah ditawan saya mengetahui dia meninggal yakni tepatnya sebelum akhirnya pasukan TRI meninggalkan desa kami sekitar awal tahun 1949,” jelasnya.
Mengenai di mana lokasi tawanan itu meninggal dunia dan kemudian dikuburkan, Tolu terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia keluar rumah dan menunjukkan pohon petai di depan bekas rumah kakeknya Yasir yang kini sudah rata dengan tanah.
“Di sanalah Tan Malaka hilang, itu yang hanya saya tahu, ini juga saya katakan pada orang Belanda Harry A Poeze yang datang menemui saya tiga belas tahun lalu. Kemudian oleh Harry tempat tersebut disuruh menandai dengan tulisan “Di sinilah Tempat Hilangnya Datuk Ibrahim/Tan Malaka,” katanya.
Sedikit mengingatkan Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan perjuangan yang gigih dia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Di usianya yang masih 16 tahun tepatnya tahun 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 dia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru di sebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
Tahun 1921, dia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 dia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskow dan Belanda.
(Sumber: Merdeka Online)