"Jika cita-cita adalah sebuah tujuan dan masa depan, maka masa lalu dan sejarah adalah satu-satunya cara untuk mendapatkanya" -Arung Samudra-

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke-8 — 15 M

Mengenal ciri khas bangunan candi di wilayah Jawa

Proses Terbentuknya Kesadaran Nasional

Tahap terbentuknya Nasionalisme di dalam bangsa Indonesia

Penegakan Hukum Kerajaan Majapahit

Sistem peradilan dan penegakan hukum era Kerajaan Majapahit

Awal Mula Kedatangan Jepang ke Indonesia

Sejarah perjalanan dan kependudukan penjajahan bangsa Jepang di Indonesia

Ketika Pasukan Letkol Untung Kalah karena Nasi Bungkus

“Kalau memang dia berniat untuk itu, tentunya dia mempersiapkan makanan, logistik. Tapi ini tidak. Misi Untung hanya menculik tujuh jenderal,” ujar Petrik

Tampilkan postingan dengan label revolusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label revolusi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Sejarah Amerika

 Amerika, sebuah negara yang berada di suatu benua yang semula tidak diketahui keberadaan nya, kini telah menjadi negara adidaya di Dunia. Lalu, bagaimanakah sebenarnya kisah disaat negara ini didirikan? sebuah negara besar yang terlahir dan didirikan oleh orang-orang pendatang.



Keadaan Amerika sebelum Kedatangan Columbus

Sebelum columbus menemukan benua amerika, sebenarnya telah ada beberapa bangsa  yang pernah menginjakkan kakinya di daerah pantai Benua Amerika. Bangsa itu antara lain adalah Bangsa Asia (Timur-tengah) dan Eropa. Para pelayar dari Timur Tengah (Arab) sebelumnya telah sampai  di Benua Amerika, dan melakukan kontak dengan suku Pribumi (Indian) di sana, buktinya adalah adanya beberapa suku Indian yang ternyata sudah memeluk Agama Islam, lalu nama berbagai daerah di Amerika Latin kebanyakan menggunakan awalan El seperti awalan Al dalam budaya Timur tengah dan Islam, diantara yang menggunakan nama itu adalah El-dorado. Selain itu, bangsa Eropa juga sebelumnya sudah sampai di Benua ini, tepatnya di daerah utara. Bangsa Noor atau lebih dikenal dengan sebutan Viking dari derah Nordik (Norwegia),pada tahun 981 M melakukan pelayarn sampai ke Greenland yang dipimpin oleh Erik the Red (Erik Ericson). Kemudian tahun 1003 M Thorfin Karlsefnio berlayar dari Greenland dan mendarat di daerah Vinland (tanah anggur atau Nova Scotia). Pelayaran banga Viking tersebut sampai di daerah pantai Benua Amerika. Namun karena bangsa Viking adalah para Bajak laut pengembara, mereka tidak mementingkan daerah jajahan.

Keadaan Amerika setelah kedatangan Columbus


(Christoper Columbus)


Saat setelah perjanjian Tordesillas (1492), atas perintah raja Spanyol, columbus berlayar ke arah barat untuk mencari dan menemukan sumber rempah-rempah di dunia Timur. Perjalanan columbus diikuti oleh Bahama, Cuba, dan santo Dominingo. Keberhasilan Columbus diikuti oleh orang-orang Spanyol dan Portugis yang ikut datang ke New World (Benua Dunia Baru) alias Amerika, sehingga derah Amerika Tengah dan Amerika Latin menjadi daerah jajahan bangsa Spanyol dan Portugal. Portugal hanya memiliki jajahan di Brazil.

Semenjak saat itu sejak abad ke-17 dimulailah Era of Great Voyage (Era Pelayaran Besar) untuk memperebutkan daerah Amerika Utara  yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa lain seperti  Prancis, Inggris, Belanda.

Kedatangan Prancis
(Samuel de Champlain)


 Pada tahun 1603 Samuel de Champlain menduduki Kanada, kemudian tahun 1682, La Salle menduduki daerah Mississippi, disusul pada tahun 1699 Iberville menduduki daerah Muara Mississippi. Dengan demikian Prancis mempunyai daerah jajahan bagiantengah dari Amerika Utara, yaitu dari Kanada sampai New Orleans.

Kedatangan Inggris

Tahun 1564 Rayleigh menduduki Virginia, 1620 Pilgrimfather (May-folwer) menduduki Massachusetts, 1623 Calvert menduduki Maryland (yang nanti akan menjadi Washington D.C). dengan demikian daerah jajahan bangsa ini meliputi pantai Timur Amerika Utara.

Kedatangan Belanda

Hudson menduduki daerah sungai Hudson pada tahun 1609, kemudian disusul pada tahun 1626 Minuit menduduki daerah Nieuw Amsterdam (Sekarang New York).

Pada tahun 1674, Inggris berhasil merebut Nieuw Amsterdam dan kemudian mengganti namanya menjadi New York. Dalam perang Tujuh Tahun (1756-1763) antara Inggris dengan Perancis, Inggris merebut daerah-daerah yang dikuasai Perancis, seperti Kanada dan Lousiana (Mississippi).

Perang Kemerdekaan Amerika Serikat (1774 – 1776)

Perang kemerdekaan Amerika Serikat sebenarnya lebih ditujukan untuk menentang kekerasan Inggris kepada kaum kolonis. Pertempurang semula terjadi di Lexington dan kemudian berlanjut ke daerah Boston. Kedudukan Inggris semakin terdesak menghadapi gerakan-gerakan para pejuang amerika Serikat. Akhirnya Inggris di Kanada menolak untuk mengirimkan bantuan menghadapi perlawanan Amerika Serikat. Bahkan koloninya itu berbalik mengadakan pemberontakan. Pemberontakan itu ternyata melemahkan kedudukan Inggris di Amerika. Terlebih lagi ketika Spanyol mengumumkan perang kepada Inggris di Eropa, mengakibatkan kekuatan Inggris terpecah, sehingga bertambah lemah.

Keadaan seperti ini sangat menguntungkan para pejuang kemerdekaan Amerika Serikat untuk tetap bergerak menentang kekuasaan Inggris atas wilayahnya. Bahkan George Washington telah mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi serangan yang dilakukan oleh pihak Inggris.

Berkat  tulisan Thomas Paine yang berjudul common sense pada tahun 1776, menyebabkan rakyat Amerika Serikat semakin sadar atas situasi Negara dan berusaha untuk mengubah sifat perjuangannya. Dan perjuangan itu pun membuahkan hasil. Untuk menegakkan kemerdekaan diselenggarakanlah kongres di Philadelphia.

Penyusunan Deklarasi kemerdekaan dan keterlibatan Freemasonry di dalamnya

Salah seorang anggota Mason amerika yang paling awal adalah Benjamin Franklin, yang menerbitkan kembali The Constitution of the Freemasons. Franklin aktif dalam lodge di Philadelphia tempat dilaksanakannya kongres, dan dia merupakan salah seorang penyusun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.
(George Washington)


George Washington adalah juru kampanye militer berpangkat. Dan sebagai panglima tertinggi dia mengalahkan Inggris dan membuka ambang menuju kemerdekaan Amerika.

Penanda tanganan Deklarasi Kemerdekaan pun dilakukan pada tanggal 4 Juli 1776 yang disusun oleh Thomas Jefferson. Dan dalam penanda tanganan itu 9 dari 56 penanda tangan adalah anggota mason. Mereka termask John Hancock yang terkenal karena tanda tangannya yang paling mencolok dan perkataannya: “Nah kurasa Raja George akan bisa membacanya!” yang terkesan menyindir Inggris. Lalu ada 13 negara bagian yang menanda tangani deklarasi tersebut. Lalu 13 dari 33 penanda tanganan Konstitusi adalah anggota Mason, termasuk Franklin dan Washington. Juga ada Daniel Caroll dari Maryland, yang hadir saat peletakan batu pertama Capitol. 33 dari 74 jenderal di ketentaraan continental adalah anggota mason, termasuk Jendral de Lafayyette dari Prancis dan Jenderal Frederick von Steuben dari Prusia. Anggota-anggota mason yang termasuk bapak bangsa amerika lainnya adalah Paul Rever, Etahn Allen, John Paul Jones, dan Thomas Paine sang penulis Common sense yang ternyata juga merupakan anggota Freemasonry. Tak dapat dipungkiri, memang keterkaitan Freemasonry dalam deklarasi kemerdekaan Amerika sangat terasa kental dan jelas.

Pengakuan Kedaulatan oleh Negara Lain

Pada tahun 1778, Prancis merupakan Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Amerika Serikat. Prancis kemudian mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Jendral de Lafayyette untuk membantu Amerika Serikat menghadapi Inggris. Lalu pada tahun 1779, Spanyol membantu Amerika.

Kedudukan Inggris pun semakin melemah, karena banyak kekuasaan Eropa yang telah berpihak pada Amerika dan di Eropa Inggris juga sedang mengalami beberapa pertempuran. Pihak inggris yang ada di Amerika pun terdesak dengan beberapa penolakan rakyat di Kanada kepada Inggris. Akhirnya Inggris dipimpin oleh Jenderal Cornwalls bersama 7000 orang tentaranya menyerah kepada George Washington dan Lafayyette di kota Yorktown pada 1783. Dan pada perjanjian paris, Inggris dipaksa untuk menyetujui pengakuan kedaulatan Amerika Serikat.

Perkembangan Amerika Serikat

Ketika Deklarasi Kemerdekaan ditanda tangani, wilayah amerika Serikat hanya terdiri dari 13 negara bagian. Namun seiring perkembangan kini Negara bagian Amerika menjadi 50 negara bagian. Hal itu terjadi dikarenakan:

-Penambahan wilayah melalui ekspansi dan pendudukan
-Memberikan perlindungan kepada warga Negara yang menginginkan nya dengan tujuan untuk menghindari ancaman dari Negara lainnya dan selanjutnya menjadi Negara bagian.
-Pembelian wilayah yang disebabkan karena alasan politik.

Pada tahun 1788 Undang-Undang Negara amerika Serikat disahkan dan wajib ditaati oleh seluruh Negara-negara bagian maupun pemerintah pusat. Dalam sidang Kongres tersebut akhirnya George Washington terpilih menjadi Presiden pertama Negara Amerika Serikat sekaligus menjadi mason 330  Pertama. Washington menjabat dari tahun 1789 – 1797.
Perang Saudara (Civil War)

Amerika serikat yang terdiri atas 13 neara bagian itu sebenarnya merupakan sebuah Negara yang terdiri dari 2 blok yang bertentangan, yaitu 4 negara bagian di blok utara yang dipimpin oleh Alexander Hammilton. Lalu 9 negara bagian lainnya yang tergabung dalam blok selatan yang dipimpin oleh Thomas Jefferson.  Selain itu 2 blok ini mempunyai perbedaan yaitu:
  • Blok Utara berbasis Industri, sedangkan Blok Selatan berbasis agraris
  • Blok Utara tidak memerlukan Budak, sedangkan Blok Selatan memerlukan budak
  • Blok Utara memiliki partai Republik, sedangkan Blok Selatan memiliki partai Demokrat
  • Blok Utara bersifat Demokratis, sedangkan blok Selatan bersifat aristokratis

Perang Saudara ini terjadi selama lebih kurang 4 tahun (1861 – 1865). Perang ini sering disebut perang abolisi (pengahpusan budak) atau Perang Suksesi yang menandakan pihak selatan ingin memisahkan diri. Perang ini pada akhirnya dimenangkan oleh Blok Utara.

Perang ini ternyata memberi dampak besar bagi Negara itu yaitu:
  • Penghapusan system budak
  • Kehancuran perekonomian amerika Selatan
  • Munculnya para carpetbeggars yang datangh ke wilayah amerika Selatan untuk merampok
  • Di tingkat tinggi berusaha untuk memegang jabatan pada tampuk-tampuk pemerintahan agar dapat melakukan korupsi
  • Tumbuhnya rasisme di Amerika Serikat  bagian Selatan terhadap orang-orang Negro yang mendapat persamaan kedudukan dengan orang kulit putih
  • Kehormatan amerika serikat naik di mata dunia Internasional.

Peristiwa Morgan Affair

Pada saat revolusi Amerika dan kuartal pertama abad ke-19, Kelompok Freemasonry berkembang di Amerika Serikat, mengingat sang presiden George Washington merupakan petinggi Mason. Tetapi, ada satu peristiwa yang terjadi, yaitu apa yang disebut “Morgan Affair”. Pada 1825, William Morgan mengancam hendak menerbitkan buku yang mengungkapkan semua rahasia-rahasia ritual Mason. Dalam Inisiasi dan Sumpah berdarah Mason terdapat ancaman bahwa siapa pun yang menyebarkan rahasia-rahasia itu akan mengalami : “Leher digorok dari telinga ke telinga … lidah dicabut sampai ke akar-akarnya… isi perut dikeluarkan dan dibakar … disebarkan ke empat penjuru.. jantung direnggut keluar dan diberikan ke[ada makhluk buas di belantara.” Morgan di tangkap, lalu dibebaskan, tapi dia menghilang, dan didesas-desuskan dia dibunuh olehKelompok Mason.

Akibat kejadian tersebut, kondisi Negara Amerika sedikit mengalami goncangan terutama perhatian kepada pemerintah dan kelompok Freemasonry. Peristiwa tersebut turut membangkitkan gerakan anti-Mason, dan bahkan sebuah partai politik Anti-Mason yang mendukung presiden John Quincy Adams. Kelompok Freemasonry tidak bisa benar-benar terbebas dari awan kecurigaan ini sampai akhir Civil War.

Jumat, 09 Mei 2014

HOS Tjokroaminoto Menurut Mohamad Roem

Pak Tjokro yang penulis ingat senantiasa memakai pakaian Jawa tradisionil. Blankon, jas tutup, kain panjang dan sandal. Saudara Anwar Tjokroaminoto baru-baru ini menerangkan kepada penulis, bahwa ia pun hanya ingat ayahnya memakai pakaian itu.Perkenalan kami, pemuda Islam terpelajar yang tergabung dalam Young Islamieten Bond (Serikat Pemuda Islam), dengan Pak Tjokro mulai di tahun 1925, sesudah JIB didirikan. Perkenalan pertama berlangsung di Jakarta di rumah Pak Haji A Salim yang menjadi penasehat JIB. Tapi Pak Tjokro hadir waktu pada akhir tahun 1924 di Yogyakarta, Pak Syamsyurijal mengambil insiatip untuk mendirikan perkumpulan itu, dalam sebuah ruangan yang diterangi dengan lampu teplok. Dan Pak Tjokro ikut merestui pendirian itu.
Seorang pemimpin lain yang juga berkenalan dengan kami di rumah Pak Haji A Salim, ialah Pak AM Sangadji. Kemudian hari kami, setidaknya penulis ini, juga berkenalan dengan lain-lain pemimpin PSII, baik di rumah Pak Salim, maupun di tempat lain, seperti Pak Abikusno, Pak Wondoamiseno, Pak Surjopranoto; tapi tiga orang yang tersebut dahulu itu, yang paling kami kenal.
Kombinasi tiga orang itu yang agak aneh tidak terlepas dari perhatian penulis. AM Sangadji berasal dari Maluku, orang Ambon pertama yang penulis kenal. Sebelumnya penulis mengira bahwa semua orang Ambon beragama Kristen. Mulailah penulis tahu bahwa di Maluku banyak orang Islam. Tapi orang Ambon yang ada di Jawa hampir semua beragama Kristen.
Pak Sangadji seorang yang gagah perkasa. Pakaiannya selamanya rapih, jas buka dengan dasi, celana dan sepatu. Tapi tidak pernah kepala terbuka, selamanya memakai pici. Kumis melintang, dada berbulu (yang disebut akhir ini tidak kelihatan).
Pak Haji Salim seorang Minangkabau memakai pakaian menurut model sendiri. Pakaian Haji Salim ini serupa dengan kemeja yang kita pakai sewaktu revolusi di Yogya. Mula-mula Pak Salim memakai Tarbus, kopiah berwarna merah, yang biasa dipakai oleh orang-orang Arab. Tapi sesudah peristiwa Tripoli, maka tarbus itu yang semua “made in Itali” diboikot. Kemudian Pak Salim membuat pici model sendiri, yang dibuat dari kain serdadu (kain hijau). Pici itu mempunyai dua anak baju di bagian depan. Sesudah itu Pak Sangadji memakai kopiah model “OK”, demikian Pak Salim menamakan modelnya.
Waktu Bhinneka Tunggal Ika menjadi lambang Negara, penulis ingat kepada kombinasi Tjokro, Salim dan Sangadji di tahun 1925.

Orang dan Pakaiannya

Di jaman colonial, pakaian orang masih terikat oleh aturan-aturan atau kebiasaan masyarakat yang ketat. Pakaian masih menjadi ukuran, bagi yang memakai, apakah ia masuk golongan atas atau bawah.
Golongan yang paling atas ialah golongan Belanda, termasuk golongan Eropa. Pakaiannya berupa jas, celana dan sepatu dengan atau tanpa topi. Golongan pegawai negeri atau priyayi, diperbolehkan memakai jas dan celana seperti Belanda, tapi kalau ia orang Jawa atau Sunda harus memakai blangkon; kalau ia orang luar Jawa harus memakai pici, atau lainnya yang sejenis. Berpakaian persis seperti golongan Belanda dipandang tidak patut untuk orang pribumi. Pakaian mempunyai arti seperti pepatah Belanda: “De kleren maken den man” (Pakaian itu membuat orang).
Lama-lama ada juga kebebasan. Bagi orang Indonesia yang terpelajar, yang dapat dipandang sudah termasuk golongan teratas, diperbolehkan memakai pakaian yang sudah 100% seperti Belanda. Tapi golongan pangreh praja masih lama, mungkin karena kemauan sendiri, atau karena tahu bahwa tindakan itu lebih disukai oleh pembesar-pembesar Belanda, masih tetap memakai blangkon, meskipun kain panjang sudah diganti dengan celana.
Penulis ini di tahun 1924, masuk sekolah Stovia (sekolah dokter). Bagi penulis terbuka dua macam pakaian, seperti pemuda Belanda, jas, celana pendek atau panjang dan sepatu, atau pakaian tradisionil Jawa. Begitu pula bagi pelajar-pelajar yang berasal dari luar Jawa. Pakaian Eropa atau pakaian tradisionil menurut daerah masing-masing.
Sarung adalah pakaian yang dipandang kurang sopan atau kurang terhormat. Di sekolah-sekolah negeri di Jawa, di Pekalongan pun, tempat orang membuat Sarung, murid-murid tidak diperkenankan memakai sarung di sekolah-sekolah negeri. Sarung pakaian rakyat jelata.

Pak Tjokro memakai sarung

Jika Anwar Tjokroaminoto tidak ingat ayahnya memakai sarung, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa sudah lama benar, waktu Pak Tjokro memakai sarung. Dan potret Pak Tjokro yang terkenal dan bernilai sejarah, ialah Pak Tjokro yang memakai sarung, jas tutup, pici dan sandal.
Potret Pak Tjokro itu sekarang masih dapat kita lihat di kantor Ladjnah Tanfidziah PSII, di Taman Matraman. Potret itu bukan yang asli, tapi merupakan lukisan berwarna, karya penulis potret terkenal, Haji Zainal. Menurut dugaan penulis, berhubung dengan keterangan Anwar dan lain-lain bacaan, potret itu dibuat di sekitar tahun 1915.
Baru-baru ini penulis memerlukan datang ke kantor PSII untuk merenungkan sambil melihat potret yang sangat mengesankan itu, dan mengingatkan juga apa yang pernah dikatakan oleh Haji A Salim: “Pada saatnya potret itu berarti revolusi.”
Dalam surat Dr. GAJ Hazeau, Pejabat Penasehat Kantor Urusan Bumiputra, tanggal 29 September 1916, yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, berkenaan dengan selesainya Kongres Nasional Pertama Sentral Serikat Islam, yang diadakan di Bandung, tanggal 17-24 Juni 1916, dapat diambil beberapa kesimpulan:
  1. Bahwa Sarikat Islam adalah penjelmaan kesadaran rakyat
  2. Bahwa pribumi (Inlanders) tidak suka lagi dipandang sebagai “manusia setengah atau seperempat”, tapi menuntut dihormati sebagai ‘warga Negara bebas” tanah airnya
  3. Bahwa kebangkitan Islam itu tampak juga pada gejala lahir, seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari dan sebagainya[1]
Waktu penulis ini sedang memandang potret Pak Tjokro di Kantor LT PSII tersebut, penulis tidak tahu bahwa seorang pemuda sudah berdiri di samping penulis. Pemuda itu menanyakan tentang pandangan mata pak Tjokro. Pandangan mata yang menantang.
Penulis menjawab, bahwa penulis kenal pelukis Haji Zainal, kawan akrab sudah 40 tahun. Ia seorang PSII kawakan dan penulis dapat menjamin kejujurannya. Iapun penulis rasa pernah mendengar keterangan Pak Haji Salim tentang potret itu: “sebuah revolusi.”
Seperti dikatakan oleh Dr. Hazeau tersebut bahwa kebangkitan rakyat tampak juga pada “gejala yang lahir seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari”, maka perhatikan juga bagaimana Pak Tjokro duduk dalam  potret itu; kaki kanan diangkat dan diletakkan di atas lutut kaki kiri. Seorang Jawa tradisional tidak duduk semacam itu!
Kalau celana itu lambang golongan atas dan sarung pakaian rakyat jelata, maka Pak Tjokro tidak memilih memakai celana dan menganjurkan rakyatnya untuk memakainya juga, akan tetapi Pak Tjokro turun ke bawah dan mempersatukan diri dengan rakyat. Untuk menuntut persamaan ia pandang tidak perlu meniru yang ada di atas, persamaan hak tidak terletak dalam persamaan berpakaian.
Pak Tjokro memakai sarung akibatnya bukan ia yang turun kedudukannya, tapi sarung yang naik pangkat. Sarung menjadi pakaian orang yang terhormat, dan hilanglah perbedaan dalam masyarakat, yang ditentukan dengan memakai celana dan sarung.
h-agus-salim-di-pbbSemata-mata bagi kepentingan sejarah, penulis ingin menyinggung keterangan almarhum Hadisubeno. Waktu Ketua PNI itu menuding “kaum sarungan” sebagai golongan yang berbahaya bagi Panca Sila, ia tidak tahu, bahwa Pak Tjokro pada saatnya dengan senjata sarung memberi kesadaran rakyat, bahwa “kaum sarungan” bukan lagi “setengah atau seperempat manusia”, tapi “warga Negara” yang bebas. Hadisubeno juga lupa, bahwa salah seorang Ketua PNI di masa yang belum begitu lama, dan seorang pemimpin Masyumi, sangat konsekwen memakai sarung yaitu Mangunsarkoro, seorang Jawa dan Isa Ansari seorang Minang. Dalam Parlemen kita di tahun lima puluhan, kedua anggauta yang terhormat itu selalu memakai sarung di mana saja. Dan tidak kurang-kurang mereka dihormati dan disegani orang. Dan juga tidak akan tambah dihormati, andaikata mereka memakai celana. Pandangan kita sekarang tentang sarung dan celana sudah lain dari waktu Pak Tjokro berjuang dan sarung menjadi alat perjuangan.

Rok-kostuum di Kongres Nasional Pertama

Pada rapat terbuka Kongres Nasional Pertama, yang diadakan di alun-alun bandung, pada hari Minggu tanggal 18 Juni 1916, Pak Tjokro tidak memakai sarung, melainkan rok-kostuum. Pakaian ini sampai sekarang masih dipakai orang, sebagai pakaian internasional yang bersifat resmi. Seorang Duta Besar yang meyampaikan surat kepercayaan kepada Kepala Negara, kalau ia tidak mempunyai pakaian kebesaran nasional sendiri, dapat memakai rok-kostuum. Orang kawin di Eropa memakai rok-kostuum.
Penulis ingat pernah membaca, waktu Harry L Hopkins, tangan kanan Presiden Roosevelt, di waktu Perang Dunia II, memakai rok kostuum, yang ia sewa waktu mau beraudiensi dengan Raja Inggeris. Orang tidak perlu mempunyai  rok-kostuum sendiri, dapat menyewa, karena pakaian itu hanya dipakai sekali-sekali pada saat yang jarang terjadi.
Seluruh “Centraal Bestuur” Sarikat Islam, menurut laporan Dr. GAJ Hazeau kepada GG Van Limburg Stirum, yang sudah penulis sebut tadi, memberitakan hal itu, dan penulis ini tidak mempunyai alasan untuk tidak mempercayainya. Memakai sarung sebagai alat perjuangan rasa-rasanya oleh Pak Tjokro sudah dianggap selesai dan pada Kongres pertama, waktu Sarekat Islam sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai partai yang meliputi seluruh tanah air, tampaknya ada tujuan hendak memperlihatkan, bahwa pergerakan yang dipimpin oleh Pak Tjokro, tidak hanya ditujukan kepada orang yang pakai sarung saja, melainkan juga bagi orang yang pakai celana.
Sarekat Islam tidak saja menuntut tanah air yang berdiri sendiri dan kewarganegaraan yang bebas atas dasar persamaan, tapi menunjukkan juga, bahwa rakyat di kepulauan ini ingin hidup dalam dunia yang lebih luas, dengan mengindahkan apa yang berlaku dan baik dalam dunia internasional. Umat Islam yang dipimpin Pak Tjokro, meskipun tinggal di kampung dan desa, bukan rakyat “kampungan” tapi mempunyai cita-cita kemanusiaan yang luhur. Istilah “bangsa Indonesia” belum ada waktu itu, tapi kesadaran sudah lahir dan bertumbuh. Puncak kesadaran dan kebangkitan itu akan dicapai di tahun 1928, dalam Sumpah Pemuda, bahwa “Kita berbangsa satu, Bangsa Indonesia.”
Bagi pembaca yang belum tahu rok-kostuum, penulis dapat terangkan: ia terdiri dari jas hitam, bagian belakang panjang sampai  lutut, kemeja putih, dasi putih, celana hitam, di samping pakai sebuah streep hitam mengkilat dan sepatu hitam mengkilat (verlakt). Sempurnanya pakai topi tinggi, tapi ini cukup kalau hanya dipegang. Biarpun iklim Bandung dingin, pakaian itu rasanya masih terlalu tebal. Saya rasa, anggauta-anggauta Centraal Bestuur SI tidak memerlukan beli sendiri, tapi waktu itu di tempat seperti Bandung, dimana terdapat banyak orang Belanda, masih dapat disewa.

Suara Pak Tjokro

Menurut PF Dahler, seorang nasionalis Indonesia, pemimpin golongan Indo, Tjokroaminoto memiliki “een mole, krachtige baritone stem” (suara yang merdu dan berat kuat).[2]  Istilah “baritone” mempunyai arti yang khusus dalam seni musik. Penulis ini pernah mendengarkan Pak Tjokro berpidato di rapat umum yang dihadiri oleh beberapa ribu orang. Dari tiga pemimpin yang penulis sudah sebut Tjokro, Salim dan Sangadji, masing-masing orator “par excellence”, ahli pidato ulung, yang mempunyai gaya dan cirri sendiri-sendiri.
Haji A Salim umumnya dipandang sebagai orator yang brilian. Sangadji mempunyai suara seperti geledek. Perlu diingatkan, bahwa generasi Pak Tjokro belum berbahagia hidup dengan mik dan pengeras suara. Menurut ingatan penulis Pak Tjokro memang mempunyai keistimewaan. Orang di baris depan mendengar suara Pak Tjokro sama kerasnya dengan orang yang duduk di baris belakang, kecuali ia (juga –pen) mampu mengikat perhatian pendengar berjam-jam.

Tjokroaminoto, Sukarno dan Harsono

Di akhir tahun 1966, tidak lama sesudah dibebaskan dari tahanan, penulis mendapat undangan untuk berkunjung ke Makasar. Salah satu acara kunjungan itu ialah member ceramah di Aula Universitas Hasanuddin. Kebetulan sekali Harsono Tjokroaminoto yang memimpin rombongan anggauta parlemen sedang berada di Makasar, dan akan member ceramah juga di tempat dan waktu yang sama.
Harsono bicara lebih dulu, ia mempergunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata terhadap penulis. Itulah pertama kali ia bertemu dengan penulis, sesudah penulis dibebaskan. Kata-katanya baik, malah sangat manis. Penulis ini tidak sering mendengar dan melihat Harsono berpidato, tapi tiap kali mendapat kesempatan itu, ia medengarkannya seperti orang terpaku. Harsono berpidato persis seperti seorang ahli pidato yang lain, yang kita semua kenal, yaitu Sukarno. Gayanya, nadanya, gerak gerik tangannya dan bahasanya. Orang akan berhenti disitu, kalau tidak kenal Tjokroaminoto. Pada saat itu penulis merasa perlu menerangkan agar orang tahu, bahwa Harsono turunan Tjokroaminoto dan tidak meniru Sukarno.
Kalau dengan perkataan tidak akan cukup untuk menggambarkan bagaimana Tjokroaminoto berpidato, penulis rasa orang dapat mengatakan, bahwa kalau orang pernah mendengar dan melihat Sukarno atau Harsono berpidato, kira-kira begitulah gaya dan nada Tjokroaminoto.
Pada saat itu Harsono sangat manis, dank arena iktikad baik yang sebenarnya berkelebihan tidak penulis rasakan. Ia mengatakan bahwa Roem itu gurunya, bahwa meskipun bertahun-tahun tidak ketemu, rasa-rasanya baru sehari atau seminggu tidak ketemu, karena ikatan jiwa dan persaudaraan yang kuat. Ia katakana: “Kalau saudara-saudara buka dada Pak Roem, dan buka dada saya, saudara-saudara tidak akan menemukan kalimah-kalimah yang berlainan, melainkan kalimah-kalimah yang sama, sama perjuangannya terutama kalimah syahadat.” (Pada saat itu penulis otomatis ingat kepada Presiden Sukarno yang mengatakan: “He, Tengku Abdurrahman Putra, mana dadamu ini dadaku”).
Kata-kata yang memang penulis rasakan sedap sekali itu, waktu mendapat giliran, penulis pandang wajib dijawab. Penulis katakan, bahwa ia merasa mendapat kehormatan yang terlampau besar, untuk dinamakan guru saudara Harsono. Mungkin ia melihat ada hal yang seolah-olah datang dari seorang guru, kalau saudara Harsono mendengar sesuatu yang baik dari penulis. Tapi penulis sekarang tahu rahasianya. Yang ia dengar itu, ialah pelajaran yang penulis dapat dari Ayah Harsono yang melalui penulis sebagai pompa bensin, sudah sampai kepada tempat asalnya kembali.
Mengenai persamaan antara Sukarno dan Harsono penulis katakana bahwa di Indonesia ini ada dua orang yang dapat berpidato  seperti yang baru saja kita saksikan, yaitu Presiden Sukarno dan Bapak Harsono. Orang-orang yang sudah tua seperti penulis dapat menambahkan sekelumit sejarah, bahwa yang satu berkat keturunan, dan yang lain karena pengajaran. Presiden Sukarno sendiri sering mengatakan, bahwa ia banyak belajar dari Tjokroaminoto..
“Hanya bangsa yang besar yang dapat menghargai pemimpin yang besar”, sering dikatakan oleh Presiden Sukarno.
Semoga kita dapat menghargai seorang pemimpin besar, Haji Omar Said Tjokroaminoto, yang hari lahirnya, 16 Agustus, pada saat-saat ini kita peringati.*
Majalah Kiblat, Agustus 1972 dalam Buku “Bunga Rampai Dari Sejarah (II)”, Mohamad Roem, Bulan Bintang, 1977:71-81.
Sumber tulisan : insistnet.com.

PROSES TERBENTUKNYA KESADARAN NASIONAL DAN PERGERAKAN KEBANGSAAN INDONESIA

A.    Pengaruh  Pendidikan Barat Dan  Pendidikan  Islam Terhadap  Munculnya  Nasionalisme  Indonesia
1.      Pengaruh politik etis terhadap lahirnya golongan terpelajar,
Di bab depan telah kita bahas, bahwa salah satu kebijakan pemerintah kolonial yang pernah dilakukan di negri kita adalah pelaksanaan politik etis atau politik balas budi yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer dengan triloginya, yaitu :
a.       irigasi
b.      imigrasi
c.       edukasi
Walaupun politik etis tidak sepenuh hati dilaksanakan oleh pemerintah kolonial untuk kepentingan bangsa Indonesia, karena disesuaikan dengan kepentingan pemerintah penjajah namun pelaksanaan politik etis di Indonesia membawa beberapa dampak penting, utamanya yang akan kita bahas adalah bidang edukasi atau pendidikan..
Dalam pelaksanaan politik  etis bidang pendidikan dilaksanakan bukan untuk kepentingan mencedrdaskan kehidupan bangsa Indonesia, melainkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga tenaga terdidik untuk dipekerjakan dibidang administrasi murahan.. Dengan program edukasinya akhirnya pemerintah  kolonial belanda banyak, mendirikan sekolah sekolah antara lain :
1.      Volks School (SR 3 tahun)
2.      Vervolg School ( SR sambungan 3 + 2 tahun )
3.      H I S ( Hollands Inlandsche School, 0 – 6 tahun )
4.      M U L O ( sekolah menengah  )
5.      A M S ( sekolah  menengah  atas )
6.      O S V I A  (sekolah Pamong Praja)
7.      S T O V I A  ( sekolah kedokteran )
8.      R H S ( sekolah hokum)
9.      T H S ( sekolah tehnik)
Dengan  banyak berdirinya sekolah sekolah untuk golongan pribumi, maka secara perlahan tapi pasti mulailah muncul bibit bibit kaum terpelajar di Indonesia yang makin lama makin banyak jumlahnya, hal ini merupakan salah satu dampak positif pelaksanaan politik etis. Karena dengan munculnya golongan terpelajar inilah yang nanti mejadi motor penggerak  lahir dan tumbuhnya kesadaran nasiomal di Indonesia.
2.      Peranan Pendidikan Islam Terhadap Munculnya Nasionalisme Indonesia
Selain peran pendidikan barat, lahirnya kesadaran nasional juga tidak lepas dari peran pendidikan Islam, sebagaimana kita tahu bahwa salah satu saluran islamisasi yang dilakukan di Indonesia adalah melalui kegiatan pendidikan di pondok pondok pesantren. Pendidikan ini memiliki tradisi yang panjang dan lahir sebelum keberadaan pemerintah kolonial Belanda menyelenggarakan penndidikan model barat.Santrri santri jebolan pondok pesantren banyak yang berhasil menjadi tokoh masyarakat dan memiliki pemikiran yang maju akan pentingnya pendidikan bagi generasi penerusnya.Apalagi diantara mereka banyak yang berhasil menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah yang menyebabkan mereka akhirnya bergaul dengan umat islam diseluruh dunia, Melalui pertemuan,pergaulan dan pertukaran pengetahuan alkhirnya mereka menyadari keberadaan bangsanya yang masih terbelenggu oleh penjajahan Belanda. Kesadaran inilah yang akhirnya mereka dengung dengungkan setiba ditanah air.

3.      Peranan Golongan Terpelajar Dalam Pergerakan Kebangsaan Indonesia
Tumbuhnya golongan terpelajar sebagai akibat dari perkembangan pendidikan baik yang bercorak barat maupun islam akhirnya membangkitkan suatu kekuatan baru dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dari pendidikan yang mereka dapat itulah  mereka akhirnya dapat menemukan kesalahan dalam perjuangan bangsanya dalam mengusir penjajah,  yaitu :
1.  tidak adanya ikatan persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah, karena mereka berjuang untuk kepentingan daerahnya sendiri-sendiri.
2.  perjuangan yang dilakukan terlalu bergantung pada seorang pemimpin, tidak ada regenerasi
3.      perjuangan yang dilakukan tidak terorganissir dengan baik
4.      perjuangan yang dilakukan tidak memiliki tujuan yang jelas
Belajar dari kesalahan masa lampau, akhirnya timbullah kesadaran untuk membentuk orgasisasi perjuangan yang teratur agar tujuan  perjuangan dapat segera terwujud.
Tumbuh dan berkembangnya kesadaran nasional Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1.      Faktor dari dalam negeri :
    1. lahirnya golongan terpelajar/cerdik pandai
    2. timbulnya perasaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan
    3. timbulnya kesadaran pentingnya persatuan dan kesatuan
    4. timbulnya dorongan untuk mengembalikan kejayaan bangsa dimasa lalu, seperti dulu masa sriwijaya dan Majapahit
2.      Faktor dari Luar negeri :
    1. kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, yang membangkitkan semangat bangsa Asia melawan bangsa Eropa
    2. Masuknya paham paham baru. misalnya paham demokrasi dan liberalisme
    3. Munculnya pergerakan nasional diberbagai negara di kawasan Asia.
Semua faktor yang tersebut diatas telah mendorong kaum terpelajar untuk berjuang mengusir penjajah. Mereka akhirnya menyadari bahwa perjuangan untuk memajukan dan memerdekakan bangsa Indonesia harus dilakukan dengan mempergunakan organisasi yang bersifat modern, baik pendidikan,perjuangan politik, perjuangan ekonomi maupun sosial budaya.
B.     Perkembangan Pergerakan Nasional di Indonesia
1.      Organisasi organisasi yang berdiri pada masa pergerakan Nasional
Organisasi yang berdiri pada masa pergerakan nasional dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.       Organisasi yang berdiri pada masa awal pergerakan nasional
b.      Organisasi yang berdiri pada masa Radikal  (non cooperation)
c.       Organisasi yang berdiri pada masa moderat (cooperation)
Organisasi yang berdiri pada masa awal pergerakan nasional adalah :
Ø  BUDI   UTOMO ( B  U  )
Organisasi ini berdiri pada tanggal 20 Mei1908, didirikan oleh beberapa mahasiswa STOVIA di Jakarta, antara lain Dr. Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Budi Utomo didirikan dengan tujuan :
“Mencapai kemjuan dan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan” Karena merupakan organisasi modern yang pertama kali lahir, maka  Budi Utomo dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional, oleh karena itu berdirinya budi Utomo tanggal 20 Mei oleh bangsa Indonesia dipeeringati sebagai “Hari Kebangkitan Nasional”.


Ø  SAREKAT  ISLAM (  S I  )
Pada awal berdirinya, organisasi ini bernama “Sarekat Dagang Islam”, didirikan oleh Haji Samanhudi pada tahun 1911 dengan tujuan :
1.      memajukan perdagangan Indonesia dibawah panji panji Islam
2.      mengadakan persaingan dengan pedagang pedagang China
Karena sifatnya yang merakyat dan pertumbuhannya yang amat pesat, maka atas usul HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 Sarekat Dagang Islam namanya diubah menjadi “Sarekat Islam”. Organisasi Sarekat Islam memiliki tujuan :
1.      mengembangkan jiwa dagang
2.      membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam berusaha
3.      memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat
4.      memperbaiki pendapat pendapat yang keliru mengenai agama islam
5.      hidup menurut perintah agama islam
Sarekat Islam dalam waktu relative singkat berhasil menjadi organisasi masa terbesar di Indonesia saat itu dengan jumlah anggota 800.000 orang yang tersebar dalam 90 Sarekai Islam lokal diseluruh Indonesia.
Kehadiran Sarekat Islam ditengah tengah alam penjajahan menimbulkan kekawatiran yang besar bagi Belanda, untuk menghambat Sarekat Islam Belanda senantiasa memantai gerak langkah Sarekat Islam.
Tokoh tokoh Sarekat Islam yang terkenal adalah HOS Cokroaminoto dan Abdul Muis.Dalam perkembangannya, akibat taktik infiltrasi yang dilakukan oleh Parat Komunis Indonesia (PKI), pada tahun 1917 Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu :
1.      Sarekat Islam Putih (SI Putih), yaitu Sarekat Islam yang tetap nerlandaskan pada asas perjuangan semula, dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, Abdul Muis dan H. Agus Salim.
2.      Sarekat Islam Merah (SI Merah), yaitu Sarekat Islam yang telah terpengaruh oleh paham komunis, dipimpin oleh Semaun, Darsono dan Alimin
Ø  INDISCHE PARJIJ  (  I P  )
                  Indische Parjij berdiri pada tanggal 25 Desember 1912, oleh tokoh “Tiga Serangkai”, yaitu :
1.      Suwardi Suryaningrat (Kihajar Dewantara)                    
2.      Douwes Dekker (dr.Danudirja Setiabudi)
3.      dr.Tjipto Mangunkusumo
Tujuan dari Indische Partij adalah :
1.      menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan semua golongan
2.      memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional
3.      mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka
Indische Partij dianggap sebagai “organiasi politik” yang pertama kali berdiri karena organisasi inilah yang pertama kali dengan tegas menyatakan cita citanya mencapai Indonesia merdeka.
Pada tanggal 11 Maret 1913 Indische Partij dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Belanda, karena dianggap membahayakan kepentingan penjajah dan juga karena Belanda merasa malu dengan sindiran Suwardi Suryaningrat yang tertuang dalam tulisan “ALS IKEENS NEDERLANDER WAS” yang berarti “ANDAIKAN AKU SEORANG BELANDA’. Ketiga tokoh tiga serangkai dijatuhi hukuman buang ke negri Belanda dan sejak itu Indische Partij mundur.
Organisasi yang berdiri pada masa  radikal (non cooperation) adalah :
Ø  PERHIMPUNAN   INDONESIA (  P I  )
Organisasi Perhimpunan Indonesia didirikan oleh para pemuda Indonesia yang sedang belajar di negri Belanda pada tahun 1908, semula bernama INDISCHE VERENIGING, tujuannya semula adalah “membantu kepentingan para pemuda dan pelajar Indonesia yang ada di negri  Belanda.” Pada tahun 1922 nama Indische Vereniging diubah menjadi “INDONESISCHE VERENIGING”, yang diikuti pula dengan perubahan tujuan  organisasi  menjadi bersifat politik yaitu “menuntut kemerdekaan bagi Indonesia”.
Pada tahun 1924 nama Indonesische Vereniging kembali mengalami perubahan menjadi “PERHIMPUNAN INDONESIA’ dengan tujuan “berjuang untuk memperoleh suatu pemerintahan di Indonesia yang hanya bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia”.
Tokoh tokoh Perhimpunan Indonesia yang terkenal antara lain adalah :
1.      Drs. Moh Hatta                                                      
2.      Nazir Datuk Pamuncak
3.      Abdul Madjid Djoyoadiningrat
4.      Ali Sastroamijoyo
5.      Gunawan Mangunkusumo
6.      Iwa Kusuma Sumantri 

PENTING
                   Pada tahun 1925 PI mengeluarkan manifesto politik yang berisi tentang tuntutan Indonesia merdeka, wilayah   yang merdeka dan pemberlakuan hukum adat serta menentang hukum kolonial
Para pemimpin Perhimpunan Indonesia menyatakan bahwa organisasinya merupakan organisasi pergerakan nasional. Merekalah yang akan memainkan peran penting sebagai agen pengubah masyarakat dari masyarakat terjajah menjadi masyarakat yang merdeka, bebas dan pintar. Hal ini menunjukkan bahwa Perhimpunan Indonesia sebagai”MANIFESTO POLITIK”
                                                                                                    
Karena sepak terjangnya yangsangat keras menentang Belanda, maka keempat tokoh Perhimpunan Indonesia ditangkap dan dituntut dimuka pengadilan di Den Haag pada tahun 1928, namun karena tidak terbukti bersalah akhirnya mereka dibeaskan.Sejak saat itu segala kegiatan PerhimpunanIndonesia diawasi secara ketat.
Ø  PARTAI KOMUNIS  INDONESIA (  P K I  )
          Pada awalnya Partai Komunis Indonesia bernama “INDISCHE SOCIAL DEMOCRATISHE VERENIGING’ ( ISDV ) , berdiri pada tanggal 9 Mei 1914. Pada tanggal 23 Mei 1920 namanya diubah menjadi  PARTAI KOMUNIS  HINDIA, dan baru pada bulan Desember 1920 namanya diubah lagi menjadi  PARTAI  KOMUNIS  INDONESIA. Tokoh tokoh PKI antara lain adalah Semaun, Alimin dan Darsono.
Tujuan PKI adalah “melaksanakan garis politik yang ditetapkan komunisme internasional(komintern) dengan cara mengusir penjajah Belanda dan mendirikan Negara komunis Indonesia”
PKI  dalam perjuangannya menggunakan taktik infiltrasi, yaitu dengan cara menyusup kedalam organisasi lain, diantaranya adalah kedalam tubuh Sarekat Islam, hingga akhirnya Sarekat Islam pecah menjadi dua..
Ø  PARTAI  NASIONAL  INDONESIA (  P N I  )
Partai Nasional Indonesia berdiri pada tanggal 4 Juli 1927 dikota Bandung. Tokoh tokoh PNI yang terkenal adalah Ir. Sukarno. Maskun, Supriadinata,dan Gatot Mangkupraja.
Tujuan PNI adalah “Mencapai Indonesoa merdeka yang dilakukan atas usaha sendiri”. Hasil hasil Pergerakan Partai Nasional Indonesia antara lain adalah
1.      Makin kuatnya kesadaran Nasional
2.      Membentuk Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
3.      mendirikan kursus kursus, sekolah, bank. Koperasi dan rumah sakit
4.      bekerjasama dengan Perhimpunan Indonesia menggelorakan anti imperialis
5.      Ir. Sukarno memiliki pengaruh yang meluas dikalangan masyarakat.
Ir. Sukarno dalam sidang Pengadilan di Bandung denganPembelaannya “Indonesia Menggugat
Pada tahun 1929 pemimpin PNI ditangkap, karena semakin meningkatnya nasionalisme dan radikalisme dianggap sebagai persiapan untuk melakukan pembrontakan. Didepan sidang kolonial, Ir Sukarno mengemukakan pembelaannya yang terkenal dengan judul “INDONESIA MENGGUGAT’, namun walaupun pengadilan tidak dapat membuktikan kebenaran atas tuduhannya, Ir Sukarno dan tokoh-tokoh PNI lainnya tetap dijatuhi hukuman penjara. PNI bubar pada tahun 1931 karena para pemimpinnya tidak dapat melanjutkan perjuangannya.
Organisasi Yang  Berdiri Pada Masa Moderat (Cooperativ) adalah :
Ø  PARTAI   INDONESIA  RAYA (PARINDRA)
Parindra berdiri pada tanggal 26 Desember 1935 di kota Solo, Parindra merupakan fusi (gabungan) antara Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI).
Tokoh tokoh Parindra adalah dr. Sutomo, Moh. Husni Tamrin, R Panji Suroso, R. Sukarji Wiryopranoto, Mr Susanto. Taktik dan asas perjuangannya adalah kooperatif.
Tujuan Parindra adalah “ Mencapai Rindonesia Raya” dengan jalan :
1.      memperkokoh persatuan dan kesatuam bangsa
2.      menjalankan aksi polotok untuk mencapai pemerintahan yang demokratis
3.      memajukan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia.
Ø  GERAKAN RAKYAT INDONESIA (  GERINDO  )
Gerindo berdiri pada tanggal 24 Mei 1937 di Jakarta.
Tujuan Gerindo adalah :
1.      mencapai Indonesia merdeka
2.      memperkokoh ekonomi Indonesia
3.      mengangkat kesejahteraan kaum buruh
4.      memberi bantuan bagi para pengangguran
Keanggotaan Gerindo terbuka untuk umum, dan menerima seluruh lapisan masyarakat baik itu orang pribumi, china, arab maupun Eropa.
Tokoh tokoh Gerindo  yang terkenal adalah Drs. AK Ghani, Mr. Sartono, Mr.Muhammad Yamin, R Wilopo, Amir Syarifudin.
Ø  GABUNGAN POLITIK INDONESIA (GAPI )
Gabungan politik Indonesia (GAPI) adalah organisasi yang berdiri dengan latar belakang penolakan “Petisi Sutarjo” oleh pemerintah Belanda. Petisi Sutarjo adalah petisi yang berisi tuntutan kepada pemerintah Belanda agar Indonesia diberi pemerintahan sendiri, alas an pemerintah Belanda menolak petisi tersebut adalah  Indonesia belum tiba waktunya untuk  memiliki pemerintahan sendiri.
GAPI berdiri tanggal 21 Mei 1939 di Jakarta dan merupakan fusi dari Parindra, Gerindo,Pasundan,Persatuan Minahasa, Partai Sarekat Islam Indonesia dan PNI baru. Tokoh tokoh GAPI yang terkenal adalah Moh.Husni Tamrin,Amir Syarifudin dan Abikusno.
Hal hal yang diperjuangkan GAPI antara lain adalah :
1.      memperjuangkan pemakaian bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad
2.      penghapusan diskriminasi
3.      perubahan kata inlander menjadi orang Indonesia
2.      Sumpah Pemuda dan Pengaruhnya Terhadap Perjuangan Indonesia Merdeka
Ketika Budi Utomo terbentuk pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi ini dipandang sebagai organisasi yang mampu menjadi wadah aspirasi para pemuda. Namun setelah terselenggaranya Konggres Budi Utomo yang I, peranan para pemuda didalamnya justru melemah, hal ini karena dalam kepengurusan Budi Utomo banyak didominasi oleh para pegawai negri dan pensiunan.
Pada tahun 1915, berdirilah sebuah organisasi kepemudaan yang bernama TRI KORO DARMO,yang memiliki tujuan :
1.      menjalin persatuan diantara para siswa sekolah menengah dan kejuruan
2.      memperluas pengetahuan umum bagi para anggotanya
3.      membangkitkan rasa cinta terhadap bahasa dan budaya sendiri
Keanggotaan Tri  Koro Darmo adalah para pemuda yang berasal dari Jawa, Madura, Sunda, Bali dan Lombok. Nama Tri Koro Darmo akhirnya berubah menjadi “Jong Java”. Kelahiran Jong Java akhirnya disusul dengan kelahiran organisasi organisasi kepemudaan di daerah lainnya, antara lain  Jong Islamienten Bond, Jong Cilebes, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Batak dll.
Gambar  pengurus jong Islamienten Bond                                       
PENTING
Tri Koro Darmo berarti Tiga Tujuan Mulia, yaitu Sakti, Budi dan Bakti. Trokoro Darmo dipimpin oleh R. Satiman Wiryosanjoyo
      
Sejak tahun 1926 mulai terlihat adanya kecenderungan penyatuan organisasi organisasi pemuda yang telah ada, disamping itu mereka juga mulai memasuki kegiatan politik nasional, hal ini disebabkan karena semakin tebalnya jiwa kebangsaan bagi pemuda. Gejala ini ditandai dengan lahirnya beberapa organisasi pemuda yang bersifat nasional dan langsung memasuki gelanggang  politik, yaitu :
1.      Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), yang bertujuan “ menggalang persatuan dari  seluruh organisasi pemuda untuk berjuang bersama sama melawan penjajah Belanda”. PPPI berfikir bahwa tujuannya akan tercapai apabila sifat kedaerahan dihilangkan.
2.      Pemuda Indonesia (PI), yang bertujuan “ memperkuat dan memperluas ide kesatuan nasional Indonesia” PI berfikir bahwa tujuannya akan tercapai dengan jalan mendirikan organisasi organisasi kepanduan dan mengadakan kerjasama dengan organisasi yang lain.
PPPI dan PI adalah dua organisasi pemuda yang mempelopori diselenggarakannya KONGGRES PEMUDA I dan KONGGRES PEMUDA II.
KONGGRES PEMUDA I
Diselenggarakan pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926, di Jakarta, dan diketuai oleh Muhammad Tabrani dengan dihadiri beberapa tokoh pemuda, dengan dua keputusan penting, yaitu :
1.      semua perkumpulan pemuda bersatu dalam wadah organisasi “Pemuda Indonesia”
2.      mempersiapkan pelaksanaan Konggres Pemuda II
Seusai Konggres Pemuda I, para pemuda semakin menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya akan dicapai melelui.ersatuan. Pada tahun 1928 alam pikiran pemuda Indonesia sudah mulai dipenuhi oleh jiwa persatuan, rasa bangga dan rasa memiliki cita cita yang tinggi, yaitu Indonesia merdeka
KONGGRES   PEMUDA  II
Diselenggarakan pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928 di Jakarta, tepatnya di Jalan Kramat Raya no 106 di gedung “Indonesische Clubgebouw” dan diketuai oleh Sugondo Joyo Puspito dengan dihadiri oleh :
1.      Wakil wakil dari organisasi pemuda
2.      Wakil wakil dari partai Budi Utomo (BU), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Sarekat Islam (PSI)
3.      Pejabat pejabat kolonial Hindia Belanda
Tujuan diselenggarakannya Konggres Pemuda II adalah :
1.      hendak melahirkan cita cita semua perkumpulan  pemuda Indonesia
2.      membicarakan masalah masalah tentang pergerakan pemuda Indonesia
3.      memperkuat perasaan kebangsaan Indonesia dan memperteguh persatuan Indonesia
Keputusan penting Konggres Pemuda II adalah :
1.      di ikrarkannya Sumpah Pemuda
2.      semua organisasi pemuda dilebur menjadi satu dengan nama “Indonesia  Muda”
                                          
PENTING
Dalam konggres Pemuda II, sebelum dikrarkannya Sumpah Pemuda, telah diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman, yang nanti menjadi lagu kebangsaan Indonesia
                         
                                                                                           
3.      Peranan   Pers  Dan  Perana  Wanita Dalam  Pergerakan Nasional
1.      Peranan   Pers Dalam  Pergerakan  Nasional
Sebelum munculnya Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, hamper diseluruh kota besar di Indonesia telah memiliki surat kabar sendiri yang pada umumnya berbahasa melayu, misalnya :
1.      Pewarta Surabaya, Pemberitaan Betawi, Sinar Jawa dan Benteng Pagi di pulau Jawa
2.      Pemberitaan Aceh, Cahaya Sumatra, Sinar Sumatra di pulau Sumatra
3.      Pewarta Borneo di pulau Kalimantan
4.      Pewarta Menado di pulau Sulawesi
Perkembangan pers di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari penjajahan Belanda, tentunya pada saat itu belum ada kebebasan pers, setiap pembertitaan yang bersifat menentang pemerintah kolonial  Belanda penerbitannya langsung dilarang dan pemimpinnya ditangkap. Para pemimpin Indonesia yang juga sekaligus pemimpin surat kabar, dalam usaha memasyarakatkan cita cita kemerdekaan nasional terpaksa harus keluar masuk penjara karena dianggap telah melakukan kejahatan pers.
Walaupun mendapat pengawasan yang. super ketat dari pemerintah Belanda, namun pers nasional terus berkembang sejalan dengan berkobarnya semangat kebangkitan nasional sebagai penyebar cita cita kemerdekaan,Beberapa Pers yang terbit dibawah pimpinan para tokoh perintis  pejuang kemerdekaan antara lain :
1.      De Express, dibawah pimpinan dr. Ciptomangunkusumo
2.      Suara Umum, dibawah pimpinan Tohir Cindarbumi
3.      Benih Merdeka, dibawah pimpinan Moh.Yunus dan O K  Ozir
4.      Oetoesan Indonesia dibawah pimpinan HOS Ckroaminoto
Selain itu ada pula surat kabar yang khusus membawa buah pikiran Ir Sukarno dan Drs. Moh Hatta, yaitu :
1.      Pikiran Rakyat
2.      Serikat Indonersia Muda
3.      Daulat Rakyat
4.      Penyebar Semangat
Diantara majalah majalah atau pers yang terbit, yang memiliki pengaruh sangat besar dalam pergerakan Nasional adalah “Indonesia Merdeka” yang diterbitklan oleh Perhimpunan Indonesia di negri Belanda. Majalah ini ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu.
Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa peran pers dalam pergerakan nasional adalah “ sebagai penyeru agar rakyat Indonesia bangkit dan bersatu padu untuk menghadapi imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme Belanda.
2.      Peranan Wanita  Dalam   Pergerakan  Nasional

Selain gerakan sosial, kebudayaan dan politik, pergerakan nasional juga ditandai dengan bangkitnya wanita Indonesia untuk turut serta aktif menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gerakan Wanita Indonesia ini pada dasarnya tujuannya adalah untuk “mengangkat harkat dan derajat wanita Indonesia dari belenggu penjajahan dan adat istiadat yang kolot”. Tokoh tokoh pergerakan Nasional  dari kalangan wanita di Indonesia menghendaki adanya emansipasi. Tokoh yang dianggap sebagai perintis gerakan wanita di Indonesia adalah R A  Kartini  dan R 
                                     
 
Perkumpulan wanita yang  muncul pada masa pergerakan nasional adalah :
1.      Perkumpulan Kartini Found di Semarang
2.      Putri Mardika di Semarang
3.      Maju Kemuliaan di Bnadung
4.      Wanita Rukun Sentosa di Malang
5.      Budi Wanita di Solo
6.      Kerajinan Amal Setia di Kota Gadang
7.      Serikat Kaum Ibu Sumatra di Bukit Tinggi
Perkumpulan-perkumpulan wanita inilah yang nanti memprakarsai diselenggarakannya Konggres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 dengan keputusan “membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI)”.
Sejak terjadinya Konggres Wanita itulah, kesadaran wanita Indonesia untuk meningkatkan martabatnya menjadi semakin besar dan mereka juga terus ikut berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka. Sampai sekarang hari bersejarah terselenggaranya Konggres Wanita di Indonesia kita peringati sebagai  “Hari Ibu”.
http://widhisejarahblog.blogspot.com/2013/10/proses-terbentuknya-kesadaran-nasional_17.html