"Jika cita-cita adalah sebuah tujuan dan masa depan, maka masa lalu dan sejarah adalah satu-satunya cara untuk mendapatkanya" -Arung Samudra-

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke-8 — 15 M

Mengenal ciri khas bangunan candi di wilayah Jawa

Proses Terbentuknya Kesadaran Nasional

Tahap terbentuknya Nasionalisme di dalam bangsa Indonesia

Penegakan Hukum Kerajaan Majapahit

Sistem peradilan dan penegakan hukum era Kerajaan Majapahit

Awal Mula Kedatangan Jepang ke Indonesia

Sejarah perjalanan dan kependudukan penjajahan bangsa Jepang di Indonesia

Ketika Pasukan Letkol Untung Kalah karena Nasi Bungkus

“Kalau memang dia berniat untuk itu, tentunya dia mempersiapkan makanan, logistik. Tapi ini tidak. Misi Untung hanya menculik tujuh jenderal,” ujar Petrik

Tampilkan postingan dengan label kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolonial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Sejarah Belanda

Abad Pertengahan.
Daerah yang sekarang ini disebut Belanda terdiri dari sekelompok daerah pemerintahan para hertog yang otonom (Geire, Brabant) dan wilayah yang diperintah oleh para graf (Holland dan Zeeland) serta daerah keuskupan Ultrech. Di bawah pemerintahan Karel V (1500 – 1558) daerah-daerah itu dipersatukan dengan Belgia dan Luksemburg dan disebut “Tanah-tanah Rendah”, yang waktu itu merupakan bagian dari Kerajaan besar Bourgondia Habsburg (= Spanyol).
Negara Belanda Merdeka pertama didirikan tahun 1568, ketika beberapa daerah Belanda Utara memberontak kepada Phillips II, Raja Spanyol (yakni tuan tanah Bourgondia Habsburg). Perjuangan kemerdekaan ini dipimpin oleh Pangeran Willem Van Orange (1533-1584) yang disebut juga Bapak Tanah Air. Itulah permulaan Perang Kemerdekaan 80 tahun.

willem van orange
Willem Van Orange - Pahlawan Kemerdekaan Belanda

Dalam perdamaian Munster tahun 1648 Republik Persatuan Tujuh Wilayah Belanda diakui sebagai Negara Merdeka. Dalam abad itu juga pedagang-pedagang Belanda mendirikan pos-pos perdagangan di seluruh dunia. Perluasan perdagangan dan pelayaran yang pesat ini disebut Zaman Keemasan.
Perusahaan Dagang yang terkenal adalah
  1. Verenigde Oostindische Compagnie (Kompeni Hindia Timur untuk perdagangan Timur Jauh). Lebih dikenal di Nusantara sebagai VOC, sementara masyarakat Internasional menyebutnya Dutch East India Company.
  2. Westindische Compagnie (Kompeni Hinda Barat untuk perdagangan di Afrika dan Amerika dan untuk mengurus Amsterdam Baru yang sekarang menjadi New York).
Hingga terjadinya Revolusi Perancis, Belanda tetaplah sebuah Negara merdeka. Namun tahun 1795 Belanda menjadi satelit negara Perancis Raya. Dan akhirnya, pada tahun 1810 Kaisar Napoleon dari Perancis menjadikan negara Belanda sebagai jajahan Prancis (bertepatan dengan masa Gubernur Jendral Daendels di Hindia Belanda).
Pendudukan Prancis berakhir tahun 1814, Kerajaan Belanda berdiri kembali dengan wilayah meliputi Netherlands sekarang, Belgia dan Luxemburg. Raja yang pertama adalah Willem I – Pangeran Orange dari Nassau – putra Willem V, Walinegeri Belanda yang terakhir. Raja itu akhirnya menjadi hertog besar Luxemburg yang membentuk satu UNI dengan Belanda berdasarkan undang-undang Sali yang berlaku hingga tahun 1890.
Dalam undang-undang dasar Kerajaan tahun 1814 ditentukan bahwa Raja-lah yang memerintah dan bahwa para menteri bertanggungjawab kepada raja. Amandemen undang-undang tahun 1848 – Raja dinyatakan tidak dapat diganggu gugat, para menteri untuk selanjutnya bertanggung-jawab kepada perwakilan rakyat yang dipilih melalui pemilu. Undang-undang dasar baru itu merupakan dasar bagi bentuk pemerintahan kerajaan konstitusional dengan sistem parlementer.
simbol kerajaan
Simbol Kerajaan Belanda
Setelah negeri-negeri Belanda Selatan (atau disebut Belgia) secara definitif merdeka pada tahun 1839, Kerajaan Belanda memperoleh bentuknya yang sekarang.
Sistem pewarisan dengan garis keturunan laki-laki berakhir pada tahun 1890 setelah Raja Willem III mangkat. Penggantinya adalah Ratu Wilhelmina (1880 – 1962) yang diangkat pada usia 10 tahun sebagai Ratu Belanda di bawah perwalian ibunya, Seri Ratu Emma. Tahun 1898 perwalian berakhir.
Selama PD I (1914 – 1918) Negeri Belanda berusaha menjadi tetap netral. Namun pada PD II meski berusaha untuk tetap netral, Jerman tetap merangsek dan menguasai Belanda tahun 1940 – 1945. Pada masa pendudukan Jerman, Ratu Wilhelmina mengungsi ke Inggris dan kembali setelah perang.
Kedudukan Ratu Belanda diserahkan oleh Wihelmina kepada putrinya, Ratu Juliana, pada tahun 1948. Selanjutnya, Sri Ratu Juliana menyerahkan pemerintahan kepada putrinya, Ratu Beatrix pada tanggal 30 April 1980.
Kerajaan Belanda tidak memiliki banyak Negara jajahan. Setelah PD II, Nederlandsch Indie atau Indonesia memerdekakan diri dan diakui oleh Belanda dalam KMB (1949). Suriname dan kepulauan Antillen Belanda di kawasan Karibia tahun 1954 berubah status menjadi Negara Persemakmuran Belanda. Akhirnya, pada 25 Nopember 1975 Suriname menjadi republik yang merdeka. Sementara itu Aruba menadi Negara persemakmuran pada 1 Januari 1986.

Jumat, 09 Mei 2014

HOS Tjokroaminoto Menurut Mohamad Roem

Pak Tjokro yang penulis ingat senantiasa memakai pakaian Jawa tradisionil. Blankon, jas tutup, kain panjang dan sandal. Saudara Anwar Tjokroaminoto baru-baru ini menerangkan kepada penulis, bahwa ia pun hanya ingat ayahnya memakai pakaian itu.Perkenalan kami, pemuda Islam terpelajar yang tergabung dalam Young Islamieten Bond (Serikat Pemuda Islam), dengan Pak Tjokro mulai di tahun 1925, sesudah JIB didirikan. Perkenalan pertama berlangsung di Jakarta di rumah Pak Haji A Salim yang menjadi penasehat JIB. Tapi Pak Tjokro hadir waktu pada akhir tahun 1924 di Yogyakarta, Pak Syamsyurijal mengambil insiatip untuk mendirikan perkumpulan itu, dalam sebuah ruangan yang diterangi dengan lampu teplok. Dan Pak Tjokro ikut merestui pendirian itu.
Seorang pemimpin lain yang juga berkenalan dengan kami di rumah Pak Haji A Salim, ialah Pak AM Sangadji. Kemudian hari kami, setidaknya penulis ini, juga berkenalan dengan lain-lain pemimpin PSII, baik di rumah Pak Salim, maupun di tempat lain, seperti Pak Abikusno, Pak Wondoamiseno, Pak Surjopranoto; tapi tiga orang yang tersebut dahulu itu, yang paling kami kenal.
Kombinasi tiga orang itu yang agak aneh tidak terlepas dari perhatian penulis. AM Sangadji berasal dari Maluku, orang Ambon pertama yang penulis kenal. Sebelumnya penulis mengira bahwa semua orang Ambon beragama Kristen. Mulailah penulis tahu bahwa di Maluku banyak orang Islam. Tapi orang Ambon yang ada di Jawa hampir semua beragama Kristen.
Pak Sangadji seorang yang gagah perkasa. Pakaiannya selamanya rapih, jas buka dengan dasi, celana dan sepatu. Tapi tidak pernah kepala terbuka, selamanya memakai pici. Kumis melintang, dada berbulu (yang disebut akhir ini tidak kelihatan).
Pak Haji Salim seorang Minangkabau memakai pakaian menurut model sendiri. Pakaian Haji Salim ini serupa dengan kemeja yang kita pakai sewaktu revolusi di Yogya. Mula-mula Pak Salim memakai Tarbus, kopiah berwarna merah, yang biasa dipakai oleh orang-orang Arab. Tapi sesudah peristiwa Tripoli, maka tarbus itu yang semua “made in Itali” diboikot. Kemudian Pak Salim membuat pici model sendiri, yang dibuat dari kain serdadu (kain hijau). Pici itu mempunyai dua anak baju di bagian depan. Sesudah itu Pak Sangadji memakai kopiah model “OK”, demikian Pak Salim menamakan modelnya.
Waktu Bhinneka Tunggal Ika menjadi lambang Negara, penulis ingat kepada kombinasi Tjokro, Salim dan Sangadji di tahun 1925.

Orang dan Pakaiannya

Di jaman colonial, pakaian orang masih terikat oleh aturan-aturan atau kebiasaan masyarakat yang ketat. Pakaian masih menjadi ukuran, bagi yang memakai, apakah ia masuk golongan atas atau bawah.
Golongan yang paling atas ialah golongan Belanda, termasuk golongan Eropa. Pakaiannya berupa jas, celana dan sepatu dengan atau tanpa topi. Golongan pegawai negeri atau priyayi, diperbolehkan memakai jas dan celana seperti Belanda, tapi kalau ia orang Jawa atau Sunda harus memakai blangkon; kalau ia orang luar Jawa harus memakai pici, atau lainnya yang sejenis. Berpakaian persis seperti golongan Belanda dipandang tidak patut untuk orang pribumi. Pakaian mempunyai arti seperti pepatah Belanda: “De kleren maken den man” (Pakaian itu membuat orang).
Lama-lama ada juga kebebasan. Bagi orang Indonesia yang terpelajar, yang dapat dipandang sudah termasuk golongan teratas, diperbolehkan memakai pakaian yang sudah 100% seperti Belanda. Tapi golongan pangreh praja masih lama, mungkin karena kemauan sendiri, atau karena tahu bahwa tindakan itu lebih disukai oleh pembesar-pembesar Belanda, masih tetap memakai blangkon, meskipun kain panjang sudah diganti dengan celana.
Penulis ini di tahun 1924, masuk sekolah Stovia (sekolah dokter). Bagi penulis terbuka dua macam pakaian, seperti pemuda Belanda, jas, celana pendek atau panjang dan sepatu, atau pakaian tradisionil Jawa. Begitu pula bagi pelajar-pelajar yang berasal dari luar Jawa. Pakaian Eropa atau pakaian tradisionil menurut daerah masing-masing.
Sarung adalah pakaian yang dipandang kurang sopan atau kurang terhormat. Di sekolah-sekolah negeri di Jawa, di Pekalongan pun, tempat orang membuat Sarung, murid-murid tidak diperkenankan memakai sarung di sekolah-sekolah negeri. Sarung pakaian rakyat jelata.

Pak Tjokro memakai sarung

Jika Anwar Tjokroaminoto tidak ingat ayahnya memakai sarung, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa sudah lama benar, waktu Pak Tjokro memakai sarung. Dan potret Pak Tjokro yang terkenal dan bernilai sejarah, ialah Pak Tjokro yang memakai sarung, jas tutup, pici dan sandal.
Potret Pak Tjokro itu sekarang masih dapat kita lihat di kantor Ladjnah Tanfidziah PSII, di Taman Matraman. Potret itu bukan yang asli, tapi merupakan lukisan berwarna, karya penulis potret terkenal, Haji Zainal. Menurut dugaan penulis, berhubung dengan keterangan Anwar dan lain-lain bacaan, potret itu dibuat di sekitar tahun 1915.
Baru-baru ini penulis memerlukan datang ke kantor PSII untuk merenungkan sambil melihat potret yang sangat mengesankan itu, dan mengingatkan juga apa yang pernah dikatakan oleh Haji A Salim: “Pada saatnya potret itu berarti revolusi.”
Dalam surat Dr. GAJ Hazeau, Pejabat Penasehat Kantor Urusan Bumiputra, tanggal 29 September 1916, yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, berkenaan dengan selesainya Kongres Nasional Pertama Sentral Serikat Islam, yang diadakan di Bandung, tanggal 17-24 Juni 1916, dapat diambil beberapa kesimpulan:
  1. Bahwa Sarikat Islam adalah penjelmaan kesadaran rakyat
  2. Bahwa pribumi (Inlanders) tidak suka lagi dipandang sebagai “manusia setengah atau seperempat”, tapi menuntut dihormati sebagai ‘warga Negara bebas” tanah airnya
  3. Bahwa kebangkitan Islam itu tampak juga pada gejala lahir, seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari dan sebagainya[1]
Waktu penulis ini sedang memandang potret Pak Tjokro di Kantor LT PSII tersebut, penulis tidak tahu bahwa seorang pemuda sudah berdiri di samping penulis. Pemuda itu menanyakan tentang pandangan mata pak Tjokro. Pandangan mata yang menantang.
Penulis menjawab, bahwa penulis kenal pelukis Haji Zainal, kawan akrab sudah 40 tahun. Ia seorang PSII kawakan dan penulis dapat menjamin kejujurannya. Iapun penulis rasa pernah mendengar keterangan Pak Haji Salim tentang potret itu: “sebuah revolusi.”
Seperti dikatakan oleh Dr. Hazeau tersebut bahwa kebangkitan rakyat tampak juga pada “gejala yang lahir seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari”, maka perhatikan juga bagaimana Pak Tjokro duduk dalam  potret itu; kaki kanan diangkat dan diletakkan di atas lutut kaki kiri. Seorang Jawa tradisional tidak duduk semacam itu!
Kalau celana itu lambang golongan atas dan sarung pakaian rakyat jelata, maka Pak Tjokro tidak memilih memakai celana dan menganjurkan rakyatnya untuk memakainya juga, akan tetapi Pak Tjokro turun ke bawah dan mempersatukan diri dengan rakyat. Untuk menuntut persamaan ia pandang tidak perlu meniru yang ada di atas, persamaan hak tidak terletak dalam persamaan berpakaian.
Pak Tjokro memakai sarung akibatnya bukan ia yang turun kedudukannya, tapi sarung yang naik pangkat. Sarung menjadi pakaian orang yang terhormat, dan hilanglah perbedaan dalam masyarakat, yang ditentukan dengan memakai celana dan sarung.
h-agus-salim-di-pbbSemata-mata bagi kepentingan sejarah, penulis ingin menyinggung keterangan almarhum Hadisubeno. Waktu Ketua PNI itu menuding “kaum sarungan” sebagai golongan yang berbahaya bagi Panca Sila, ia tidak tahu, bahwa Pak Tjokro pada saatnya dengan senjata sarung memberi kesadaran rakyat, bahwa “kaum sarungan” bukan lagi “setengah atau seperempat manusia”, tapi “warga Negara” yang bebas. Hadisubeno juga lupa, bahwa salah seorang Ketua PNI di masa yang belum begitu lama, dan seorang pemimpin Masyumi, sangat konsekwen memakai sarung yaitu Mangunsarkoro, seorang Jawa dan Isa Ansari seorang Minang. Dalam Parlemen kita di tahun lima puluhan, kedua anggauta yang terhormat itu selalu memakai sarung di mana saja. Dan tidak kurang-kurang mereka dihormati dan disegani orang. Dan juga tidak akan tambah dihormati, andaikata mereka memakai celana. Pandangan kita sekarang tentang sarung dan celana sudah lain dari waktu Pak Tjokro berjuang dan sarung menjadi alat perjuangan.

Rok-kostuum di Kongres Nasional Pertama

Pada rapat terbuka Kongres Nasional Pertama, yang diadakan di alun-alun bandung, pada hari Minggu tanggal 18 Juni 1916, Pak Tjokro tidak memakai sarung, melainkan rok-kostuum. Pakaian ini sampai sekarang masih dipakai orang, sebagai pakaian internasional yang bersifat resmi. Seorang Duta Besar yang meyampaikan surat kepercayaan kepada Kepala Negara, kalau ia tidak mempunyai pakaian kebesaran nasional sendiri, dapat memakai rok-kostuum. Orang kawin di Eropa memakai rok-kostuum.
Penulis ingat pernah membaca, waktu Harry L Hopkins, tangan kanan Presiden Roosevelt, di waktu Perang Dunia II, memakai rok kostuum, yang ia sewa waktu mau beraudiensi dengan Raja Inggeris. Orang tidak perlu mempunyai  rok-kostuum sendiri, dapat menyewa, karena pakaian itu hanya dipakai sekali-sekali pada saat yang jarang terjadi.
Seluruh “Centraal Bestuur” Sarikat Islam, menurut laporan Dr. GAJ Hazeau kepada GG Van Limburg Stirum, yang sudah penulis sebut tadi, memberitakan hal itu, dan penulis ini tidak mempunyai alasan untuk tidak mempercayainya. Memakai sarung sebagai alat perjuangan rasa-rasanya oleh Pak Tjokro sudah dianggap selesai dan pada Kongres pertama, waktu Sarekat Islam sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai partai yang meliputi seluruh tanah air, tampaknya ada tujuan hendak memperlihatkan, bahwa pergerakan yang dipimpin oleh Pak Tjokro, tidak hanya ditujukan kepada orang yang pakai sarung saja, melainkan juga bagi orang yang pakai celana.
Sarekat Islam tidak saja menuntut tanah air yang berdiri sendiri dan kewarganegaraan yang bebas atas dasar persamaan, tapi menunjukkan juga, bahwa rakyat di kepulauan ini ingin hidup dalam dunia yang lebih luas, dengan mengindahkan apa yang berlaku dan baik dalam dunia internasional. Umat Islam yang dipimpin Pak Tjokro, meskipun tinggal di kampung dan desa, bukan rakyat “kampungan” tapi mempunyai cita-cita kemanusiaan yang luhur. Istilah “bangsa Indonesia” belum ada waktu itu, tapi kesadaran sudah lahir dan bertumbuh. Puncak kesadaran dan kebangkitan itu akan dicapai di tahun 1928, dalam Sumpah Pemuda, bahwa “Kita berbangsa satu, Bangsa Indonesia.”
Bagi pembaca yang belum tahu rok-kostuum, penulis dapat terangkan: ia terdiri dari jas hitam, bagian belakang panjang sampai  lutut, kemeja putih, dasi putih, celana hitam, di samping pakai sebuah streep hitam mengkilat dan sepatu hitam mengkilat (verlakt). Sempurnanya pakai topi tinggi, tapi ini cukup kalau hanya dipegang. Biarpun iklim Bandung dingin, pakaian itu rasanya masih terlalu tebal. Saya rasa, anggauta-anggauta Centraal Bestuur SI tidak memerlukan beli sendiri, tapi waktu itu di tempat seperti Bandung, dimana terdapat banyak orang Belanda, masih dapat disewa.

Suara Pak Tjokro

Menurut PF Dahler, seorang nasionalis Indonesia, pemimpin golongan Indo, Tjokroaminoto memiliki “een mole, krachtige baritone stem” (suara yang merdu dan berat kuat).[2]  Istilah “baritone” mempunyai arti yang khusus dalam seni musik. Penulis ini pernah mendengarkan Pak Tjokro berpidato di rapat umum yang dihadiri oleh beberapa ribu orang. Dari tiga pemimpin yang penulis sudah sebut Tjokro, Salim dan Sangadji, masing-masing orator “par excellence”, ahli pidato ulung, yang mempunyai gaya dan cirri sendiri-sendiri.
Haji A Salim umumnya dipandang sebagai orator yang brilian. Sangadji mempunyai suara seperti geledek. Perlu diingatkan, bahwa generasi Pak Tjokro belum berbahagia hidup dengan mik dan pengeras suara. Menurut ingatan penulis Pak Tjokro memang mempunyai keistimewaan. Orang di baris depan mendengar suara Pak Tjokro sama kerasnya dengan orang yang duduk di baris belakang, kecuali ia (juga –pen) mampu mengikat perhatian pendengar berjam-jam.

Tjokroaminoto, Sukarno dan Harsono

Di akhir tahun 1966, tidak lama sesudah dibebaskan dari tahanan, penulis mendapat undangan untuk berkunjung ke Makasar. Salah satu acara kunjungan itu ialah member ceramah di Aula Universitas Hasanuddin. Kebetulan sekali Harsono Tjokroaminoto yang memimpin rombongan anggauta parlemen sedang berada di Makasar, dan akan member ceramah juga di tempat dan waktu yang sama.
Harsono bicara lebih dulu, ia mempergunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata terhadap penulis. Itulah pertama kali ia bertemu dengan penulis, sesudah penulis dibebaskan. Kata-katanya baik, malah sangat manis. Penulis ini tidak sering mendengar dan melihat Harsono berpidato, tapi tiap kali mendapat kesempatan itu, ia medengarkannya seperti orang terpaku. Harsono berpidato persis seperti seorang ahli pidato yang lain, yang kita semua kenal, yaitu Sukarno. Gayanya, nadanya, gerak gerik tangannya dan bahasanya. Orang akan berhenti disitu, kalau tidak kenal Tjokroaminoto. Pada saat itu penulis merasa perlu menerangkan agar orang tahu, bahwa Harsono turunan Tjokroaminoto dan tidak meniru Sukarno.
Kalau dengan perkataan tidak akan cukup untuk menggambarkan bagaimana Tjokroaminoto berpidato, penulis rasa orang dapat mengatakan, bahwa kalau orang pernah mendengar dan melihat Sukarno atau Harsono berpidato, kira-kira begitulah gaya dan nada Tjokroaminoto.
Pada saat itu Harsono sangat manis, dank arena iktikad baik yang sebenarnya berkelebihan tidak penulis rasakan. Ia mengatakan bahwa Roem itu gurunya, bahwa meskipun bertahun-tahun tidak ketemu, rasa-rasanya baru sehari atau seminggu tidak ketemu, karena ikatan jiwa dan persaudaraan yang kuat. Ia katakana: “Kalau saudara-saudara buka dada Pak Roem, dan buka dada saya, saudara-saudara tidak akan menemukan kalimah-kalimah yang berlainan, melainkan kalimah-kalimah yang sama, sama perjuangannya terutama kalimah syahadat.” (Pada saat itu penulis otomatis ingat kepada Presiden Sukarno yang mengatakan: “He, Tengku Abdurrahman Putra, mana dadamu ini dadaku”).
Kata-kata yang memang penulis rasakan sedap sekali itu, waktu mendapat giliran, penulis pandang wajib dijawab. Penulis katakan, bahwa ia merasa mendapat kehormatan yang terlampau besar, untuk dinamakan guru saudara Harsono. Mungkin ia melihat ada hal yang seolah-olah datang dari seorang guru, kalau saudara Harsono mendengar sesuatu yang baik dari penulis. Tapi penulis sekarang tahu rahasianya. Yang ia dengar itu, ialah pelajaran yang penulis dapat dari Ayah Harsono yang melalui penulis sebagai pompa bensin, sudah sampai kepada tempat asalnya kembali.
Mengenai persamaan antara Sukarno dan Harsono penulis katakana bahwa di Indonesia ini ada dua orang yang dapat berpidato  seperti yang baru saja kita saksikan, yaitu Presiden Sukarno dan Bapak Harsono. Orang-orang yang sudah tua seperti penulis dapat menambahkan sekelumit sejarah, bahwa yang satu berkat keturunan, dan yang lain karena pengajaran. Presiden Sukarno sendiri sering mengatakan, bahwa ia banyak belajar dari Tjokroaminoto..
“Hanya bangsa yang besar yang dapat menghargai pemimpin yang besar”, sering dikatakan oleh Presiden Sukarno.
Semoga kita dapat menghargai seorang pemimpin besar, Haji Omar Said Tjokroaminoto, yang hari lahirnya, 16 Agustus, pada saat-saat ini kita peringati.*
Majalah Kiblat, Agustus 1972 dalam Buku “Bunga Rampai Dari Sejarah (II)”, Mohamad Roem, Bulan Bintang, 1977:71-81.
Sumber tulisan : insistnet.com.

Tan Malaka, ditawan sebelum meninggal di tangan bangsa sendiri

http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2013/04/18/tan-malaka-ditawan-sebelum-meninggal-di-tangan-bangsa-sendiri/

Rasa penasaran itu masih saja berkecamuk. Rasa yang sama mungkin juga dimiliki sejarawan Belanda Harry A Poeze yang menyebutkan Tan Malaka dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949 oleh Brigade Sikatan atas perintah Letnan Dua Sukotjo.
Rasa penasaran itu berujung ketika harus melangkah menuju wilayah Selopanggung yang berada di kaki Gunung Wilis tempat di mana Tan Melaka harus meregang nyawa. Keputusasaan sempat berkecamuk ketika gagal mendapatkan informasi seperti apa yang disampaikan Harry A Poeze, yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) tentang Tan Malaka di Desa Selopanggung.
Namun berkat kesabaran akhirnya merdeka.com bertemu dengan Syamsuri (45) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998).

Atas jasa Syamsuri itulah, merdeka.com diajak bertemu dengan Tolu (87) warga Selopanggung yang berada di lembah Gunung Wilis yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Kediri. Tolu yang sudah agak berkurang pendengarannya itu, kaget ketika penulis datang bertanya tentang rumah kakeknya yang dijadikan tempat persembunyian Brigade S saat agresi Belanda kedua terjadi sekitar tahun 1948.
Dan lebih kaget lagi ketika disebutkan nama Tan Malaka. Tolu terdiam sejenak untuk mengambil napas, kemudian dia menghisap rokok klobot (rokok ricikan sendiri) dan dinikmati dengan pelan dan kemudian dari mulutnya keluar perintah kepada anak perempuannya. “Nduk gawekno wedang kopi, iki lho enek tamu,” katanya singkat. (Anak perempuanku tolong buatkan kopi untuk tamu).
Setelah kopi dihidangkan, kemudian ia bercerita. “Kala itu saya masih berumur sekitar 10 tahun. Saya tinggal bersama kakek saya, Mbah Yasir namanya. Rumah kakek saya itulah yang ditempati pasukan TRI yang melarikan diri dari kejaran Belanda,” katanya sambil menikmati rokoknya.
Ditambahkan Tolu, dari para anggota TRI tersebut dia masih ingat nama-nama pentolannya. “Mereka adalah priyayi yang berpakaian bagus, berpendidikan, membawa senjata, membawa buku dan juga mesin ketik. Mereka antara lain Letkol Surahmat, Letnan Dua Sukotjo, Soengkono, Sakur, Djojo dan Dayat. Merekalah para komandan yang membawahi kurang lebih 50 pasukan yang saat itu berjuang melawan Belanda,” imbuhnya.
Saat Tolu menyebut nama Soekotjo, Soerahmat,dan juga Soengkono saya pun teringat akan nama itu yakni sama persis dengan riset Harry A Poeze yang menyatakan Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade S atas perintah Letnan Dua Sukotjo . Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade-nya Letkol Soerahmat.
Hal ini juga diperkuat dalam buku Otobiografi Letkol Soerahmat (Komandan Brigade S, tinggal di Kediri) yang ditulis salah satu putranya Ir Suyudi memang menyebutkan bahwa Brigade Sikatan atau yang lebih dikenal dengan Brigade S adalah yang menembak mati Tan Malaka di Kediri pada 21 Februari 1949.
Penangkapan hingga penembakan mati Tan Malaka oleh Brigade S atas perintah Petinggi militer di Jawa Timur. Militer menilai seruan Tan Malaka membahayakan stabilitas. Seruan Tan Malaka itu terkait penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta pernyataan enggannya elite militer bergerilya.
Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje Nganjuk dan akhirnya dieksekusi di Selopanggung Kediri. Tentang Tan Malaka sendiri, Tolu saksi sejarah yang masih hidup mengaku antara ingat dan tidak. Untuk mengembalikan memori ingatannya merdeka.com mencoba mencoba membukakan gambar wajah Tan Malaka.
Dari situlah kemudian dia kembali teringat. “Orang ini adalah orang yang menjadi tawanan TRI, dia diamankan khusus. Waktu itu yang menjaga adalah di bawah pengawasan Pak Dayat langsung. Entah bagaimana ceritanya ketika itu setelah ditawan saya mengetahui dia meninggal yakni tepatnya sebelum akhirnya pasukan TRI meninggalkan desa kami sekitar awal tahun 1949,” jelasnya.
Mengenai di mana lokasi tawanan itu meninggal dunia dan kemudian dikuburkan, Tolu terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia keluar rumah dan menunjukkan pohon petai di depan bekas rumah kakeknya Yasir yang kini sudah rata dengan tanah.
“Di sanalah Tan Malaka hilang, itu yang hanya saya tahu, ini juga saya katakan pada orang Belanda Harry A Poeze yang datang menemui saya tiga belas tahun lalu. Kemudian oleh Harry tempat tersebut disuruh menandai dengan tulisan “Di sinilah Tempat Hilangnya Datuk Ibrahim/Tan Malaka,” katanya.
Sedikit mengingatkan Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan perjuangan yang gigih dia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Di usianya yang masih 16 tahun tepatnya tahun 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 dia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru di sebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
Tahun 1921, dia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 dia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskow dan Belanda.
(Sumber: Merdeka Online)